Seni Mencari Sandal

 

Begitu berat hari-hari setelah menyangga gelar calon pengangguran yang nantinya makin memberatkan negeri ini. Rutinitas yang biasanya diisi dengan mengerjakan perintah guru, merevisi hasil revisi skripsi, berkumpul dengan rekan sejurusan (berhimpun) yang membuat kita dilabeli aktivis atau orang sibuk, tiba-tiba sehampa pompa vakum.
Mungkin ini namanya post power syndrome, yang banyak dirasakan pula oleh kawan-kawanku yang menjadi penguasa utama dari kecelakaan sejarah oleh pendahulu kita (himpunan). Kami-kami ini, yang sudah menyelesaikan hampir seluruh to do list untuk menjadi pengangguran, dimana kesibukan adalah keutamaan jiwa, tiba-tiba ditarik dan sirna, seperti kehilangan sandal di masjid.

Terkadang, saya mencoba mencari analogi kehidupan yang bisa diaplikasikan ke semua kalangan, baik suku, agama, maupun ras. Namun ketakutan akan memicu pelatuk yang
membahayakan kelakuan baik penulis, apalagi penulis yang bukan siapa-siapa ini. Tapi saya yakin bahwa kita semua tahu pasti legenda hilangnya sandal di masjid.

Sebelum kita menyelami seni persandalan, perlu kita ketahui banyak jenis sandal. Selama kehidupan saya, sandal yang dikenal hanya ada 3 jenis. Sandal gunung, sandal crocs, dan sandal swallow. Dan 3 jenis sandal inipun, terlalu banyak bagi kehidupan seorang pria. Seperti kata Einstein, dua jenis sabun pun terlalu membingungkan.
Cuma 3 opsi inilah yang saya selalu gunakan, di saat kampus kami menuntut penggunaan alas kaki yang lebih layak, yang biasa dipanggil sepatu.

Saya dengar hanya ada 2 jenis sepatu di dunia, yaitu sepatu olahraga dan sepatu upacara. Iya, sepatu upacara yang hitamnya mengkilat, dan lebih mengkilat daripada
piala-piala juara makan kerupuk saat 17 Agustusan. Kata orang, sepatu upacara ini menunjukkan harga diri seseorang. Makin hitam mengkilat warnanya dan makin bohay lekukan di ujungnya, makin sedap dipandang dan makin tinggi martabatnya. Sedangkan sepatu olahraga, bagi saya sendiri, menunjukkan keseksian. Makin cerah warnanya, makin nafsu mata kita menatapnya. Coba saja ke gelanggang olahraga. Tatapan mata paling aman untuk menikmati keseksian seseorang adalah warna sepatunya. Percayalah, makin cerah, makin bergelora. Seriusan, makin.

Dilematis ya, seksi kalau cerah, terhormat jika hitam. Kontradiktif. Yin Yang. Jangan-jangan kalau seksi, kehormatannya … (Isi saja sendiri, tak perlu liat kanan kiri). Lagi-lagi ini masih jangan-jangan. Cukuplah untuk konsumsi pribadi.

Oya, seksi bukan hak sejenis kelamin saja ya. Kita semua bisa seksi kok. Anda juga. Saya juga.

Cuma, kalau boleh memilih, saya pilih terhormat daripada seksi. Bukan karena saya geli membayangkan diri saya yang seksi. Cuma saya lebih suka hitam daripada putih.
Seperti kata card professor Richie di Yu-Gi-Oh R, katanya duel disk untuk yang terbaik itu berwarna hitam, bukan seperti keluaran komersial Kaiba Corporation yang warnanya putih-putih cerah. Mengapa? Karena warna hitam tak bisa digantikan dengan warna apapun (kecuali dicat putih). Kita pun semua begitu. Mencari baju kalau bisa warnanya gelap, mencari celana kalau bisa warnanya gelap. Kotor sedikit tidak kelihatan, karena semua warna akan bercampur menjadi hitam. Mungkin hakekat kita semua lebih penting menjadi terhormat daripada seksi.

Jangan-jangan, karena identik dengan cerah, yang seksi lebih gampang menjadi … dong. (Lagi-lagi isi sendiri).

Ya, kalau begitu, terhormat tidak sekeren yang saya pikir ya, karena sedikit kotor tak apalah, toh masih hitam pula. Apa ini ya alasannya banyak orang terhormat yang terjerembap main kotor di negeri ini?

Loh, kok gini? Mana sandalnya?

Itulah pertanyaan yang biasanya muncul dalam hati para umat yang tidak menemukan alas kaki kesayangannya saat keluar dari mushola atau masjid. Saya bukan seorang muslim, tapi paham sekali perasaan seperti ini. Dari tahun pertama di kampus, kehidupan saya tak lepas dari Masjid Salman ITB. Adanya teh manis hangat gratis dan
water fountain yang tujuan utamanya mungkin untuk musafir yang kehausan, malah saya alokasikan untuk botol plastik 1,5 L demi memenuhi dahaga setiap hari. Belum lagi
keegoisan saya berakhir, toilet masjid yang begitu nyaman dan jauh lebih bersih daripada kamar kos saya pun menjadi pilihan utama di saat gawat darurat.

Toilet yang di dalam masjid, pastinya membuat orang harus melepaskan alas kaki. Ada yang cukup santai dengan sekedar membiarkannya di pelataran, ada yang mungkin trauma kehilangan sehingga menyimpannya di lemari penyimpanan, ada yang maniak seperti saya yang memasukkan ke tas, dan saya bawa masuk ke dalam.

Membiarkan di pelataran ini adalah kecenderungan sebagian besar orang. Seni dalam mengikhlaskan, nampaknya. Cuma beberapa orang terlihat sebegitu perhitungan pula dalam membiarkan. Misal membiarkan di koordinat tertentu yang mudah dilacak, misal di tepi pelataran, di pinggir tiang, di pojok ubin, dst. Tidak hanya koordinat, jenis sandal pun mungkin sedikit banyak dipertimbangkan. Tidak seperti kisah kontemporer akan hubungan identik antara sandal swallow dan masjid, saya menyukai sandal crocs.

Lucu memang, pertama kali diperkenalkan dengan jenis sandal ini, saya merasa illfeel. Seriusan, lubang-lubang acak di sandal itu terlihat mengerikan, seperti luka yang dibuat dari tingginya ekspektasi. Pertama kali dibelikan, saya tidak mau menggunakannya. Geli.

Cuma, seperti kata Iblis, sekali cicip dosa, rasanya jadi ketagihan. Suatu saat di waktu yang mendadak, saya harus menggunakan sandal tersebut, dan ternyata, enak juga. Bahan dasarnya karet yang mengikuti kontur lengkung telapak kaki seperti ranjang yang siap ditiduri kapanpun. Lubang-lubang acak pun memberikan fungsi ventilasi yang adem ke kaki, sehingga layak digelari “sepatu sandal” di sisa hidup saya nanti. Ini akhirnya menjadi cinta pertama saya di perkuliahan, yang selalu saya gunakan kemanapun, tanpa ketakutan dituduh pemberontak karena menggunakan sandal. Namun bukan berarti kisah saya dan sandal crocs sebegitu manis, kami pun pernah diuji oleh berbagai dosen untuk mempertahankan hubungan. Namun, cerita itu rahasia kami berdua saja.

Bisa dibilang, sandal crocs menjadi dewa karena longlasting. Bahan dari karet tanpa adanya sambungan yang mudah putus menyebabkan dia unggul dibandingkan jenis lain. Setia sampai akhir hayat.

Satu seni baru yang saya kenal dalam persandalan adalah, kebesaran lebih baik daripada kekecilan. Namun sedikit kekecilan pun bisa disesuaikan kalau terbiasa. Tresna jalaran sekang kulina. Dan bencana akan dimulai bila kita mengandalkan jenis yang penuh sambungan rapuh seperti sandal swallow. Putus, purna pula pengabdiannya. Bisa sih sedikit diutak-atik, cuma ya tetap susah.

Itu yang bikin opsi berikutnya, carilah sandal yang sedikit persambungan rapuhnya. Dan biasanya, sandal yang memisahkan jempol dengan jari kaki lainnya lebih rapuh, dan selain itu, lebih tidak nyaman selama aku mencoba. Mungkin itu esensi jari kaki ada 5, seperti Pandawa, tak bisa dipisahkan. Boleh lah Yudhistira yang paling suci dibandingkan sisanya, namun mereka tak bisa dipisahkan kecuali maut di Himalaya. Matinya pun berurutan, satu setelah yang lain, serupa dengan bagaimana jari-jari kaki kita saling tertata, satu setelah yang lain.

Dan jika boleh aku mengenal sandal yang tidak memiliki persambungan rapuh, aku akan berterima kasih kepada dosen pembimbingku, Dr. Bambang Prijamboedi yang menjadi teladan bersandal gunung di kampus. Inilah sandal yang memiliki persambungan yang kuat, memang layak buat dibawa ke gunung. Kuat dan perkasa.

 

Loh, kok gini? Mana sandalnya?

 

Dan inilah sandal pertamaku, yang memberikan arti kehilangan sesungguhnya.

Baru merasakan bulan madu bersamanya beberapa bulan, dia hilang, entah dipinjam tanpa ijin atau bagaimana, hilang begitu saja. Sirna. Sebegitu sakit hatinya
menyebabkan saya merasakan semua kesedihan para umat yang terpisah dengan belahan alas kakinya di seluruh tempat ibadah. Sakit.

Saya tidak tahu dimana tepatnya kehilangan itu terjadi, karena jika saya tahu, itu bukan kehilangan namanya.

Cuma saya tidak terlalu mau membahas kesedihan ini, karena di suasana yang masih hangat-hangat Lebaran ini harus bahagia. Maka saya bagikan tipsnya :

 

 

Namanya : move on.

 

 

 

Oya, bedakan move on dengan pelarian. Move on adalah tindakan dewasa, namun pelarian adalah tindakan … (Lagi-lagi, isi sendiri). Kalau saya kehilangan sandal, saya sedih, saya langsung ke toko sandal, saya beli sandal baru, itu pelarian. Dan biasanya, sandal baru, tidak jauh berbeda dengan sandal lama. Bahkan mungkin saja tepat sama. Ya itu namanya pelarian. Jadi, kalau kalian merasa mirip banget sama mantannya pacar kalian yang sekarang, ya mungkin kalian sekedar … (he he).

Saya tidak bilang saya dewasa, tapi ini yang saya lakukan. Introspeksi. Memiliki sandal yang banyak itu seni mengurus hati banyak pasangan. Pintar-pintar dalam
memanajemen, harus adil ke sandal tua, begitu pula ke sandal muda. Bagi waktu, dan mungkin ini penyebabnya, kalian terlalu bermesraan dengan satu jenis sandal saja.

Sandal pun bisa merajuk, selingkuh dengan kaki yang lain bila dinganggurin. Maka dari itu, mungkin, mungkin, sandal gunung yang hilang itu permohonan sandal crocs ke dewa sandal. Agar saya bisa lebih perhatian, lebih adil dalam bersandal. Sandal crocs saya masih setia menunggu di rak sepatu kos saya. Terlihat berdebu, namun alas karetnya tetap terasa nikmat seperti pertama kali. Hari-hari kosong tak lagi kosong dengan sandal crocs yang masih menemani.

Saya lupa pepatahnya, tapi ulam pun tiba. Suatu hari, di pameran terbesar yang menjual berbagai piranti dengan berbagai nilai diskon surrealis, Tuhan pun mempertemukan saya dengan “yang baru”. Ini baru namanya move on. Tidak tepat sama, cuma inilah yang natural, biarkan kalian dengan sandal saling bertemu dengan alami. Tanpa dipaksa, tanpa “dikongkon”. Nikmatnya selangit.

Walau begitu, aneh pula kisah move on-nya. Saya yang tak pernah paham esensi ukuran dari berbagai piranti (sandal, baju, celana, dst) bisa dibilang memilih sandal dari cicip-cicipnya. Ya, walau tak boleh dicoba, apa salahnya. Puluhan sandal menanti cicip-cicip berhadiah dari kaki saya. Wah, nampaknya yang ukuran 40 ini pas rasanya. Demi menyelamatkan satu yang berharga itu, saya dekap erat-erat di dada.

Namun, apa mungkin karena saya lelaki yang juga manusia, sudah punya satu yang didekap, hasrat pun masih bergelora untuk mencari yang lain. Kata orang sih, “ngilangin penasaran”. Walau sejauh mata memandang hanya 38 dan 39 yang tersisa, tangan pun masih menyelami lautan sandal. lima belas menit kuhabiskan untuk hal nirfaedah tersebut.

Dan inilah kenyataannya, dari palung sandal terdalam, tarikan terakhirku seperti nomor togel yang pas dengan gacoannya. Nomor lotre yang dapat bonus, Voila! Ukuran 41!
Segera saya coba sandal ini, hmm..lebih pas rasanya. Ya sudah, saya jatuhkan yang no 40 kembali ke lautannya, saya ganti dekap dengan ukuran 41.

Apa mungkin begini ya rasanya jodoh di dunia nyata? Pacaran 4 tahun, ternyata jagain jodoh orang lain selama ini. Ukuran 40 yang jagain saya selama ini, mungkin saja maksudnya biar saya bisa memantaskan diri untuk ukuran yang lebih pas, 41 misalnya. Apa mungkin jodoh kita sesederhana mencari sandal? Mendekap satu insan yang dirasa “pas”, sebelum melepaskannya untuk yang lebih “pas”?

Ya, tapi kan jagainnya cuma lima belas menit, keleus. Ga nyampe 4 tahun juga.

 

 

Tapi, lima belas menit pun bisa membuatku memutar mata, menatap kembali ukuran 40 yang terperosok kembali di lautan sandal, seiring langkahku pergi.

 

Sambil bergumam ,”terima kasih ya.”

Cemburu

Apa itu cemburu? Mungkin di antara semua insan dalam semesta ini, akulah yang paling paham akan cemburu.

Cemburu adalah saat aku menatap matamu yang kutahu tak pernah tertuju padaku.

Cemburu adalah saat aku membelai rambutmu yang kutahu wanginya bukan untukku.

Cemburu adalah saat aku mengusap-usap tanganmu yang kutahu selalu menggenggamnya.

Cemburu adalah saat aku mencubit pipimu yang selalu dikecup olehnya.

Cemburu adalah saat aku menyapu air matamu yang selalu tumpah karenanya.

Cemburu adalah saat aku mengecup bibirmu, yang penuh dengan ludahnya.

Cemburu adalah kamu. Cintaku.

Rasa Sakit yang Semu

Sejak 7 tahun yang lalu, sedari tahun 2009-2015, saya selalu memiliki prestasi akademik internasional ataupun nasional. Dan sebenarnya pada tahun 2013 saya memutuskan untuk mengakhiri fokus saya untuk pencapaian akademik dengan bernazar untuk menjadikan ONMIPA Bidang Kimia tahun 2014 sebagai pencapaian akademik terakhir di bidang olimpiade.

Namun Tuhan tidak membiarkan hal tersebut terjadi, dan saya malah terpilih menjadi Delegasi Outstanding Students for The World (OSTW) 2014 di Kanada. Untuk mengikuti program tersebut, saya akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan keikutsertaan di ONMIPA. Akhirnya, ONMIPA pun baru bisa saya capai setahun kemudian, tepatnya di bulan Mei 2015.

Setelah pencapaian terakhir sudah saya peroleh, rasa kelegaan muncul dan parahnya, menjadi “kematirasaan” untuk melakukan berbagai hal yang lain. Sebenarnya, saya ingin memantik hal tersebut menjadi kebangkitan semangat kembali saat saya memperoleh penghargaan Ganesha Karsa di bulan Agustus 2015. Namun, kesibukan semester 5 membuat saya melupakan kebangkitan semangat itu.

Semester 5, semester yang paling padat di Prodi Kimia ITB, dengan 4 praktikum membuat saya tertantang untuk melaluinya dengan sempurna. Saya mengambil 24 SKS dan melaluinya dengan cukup baik, dan IP yang sempurna di akhir semester.

Saat saya mengambil 24 SKS, tanggung jawab sebagai anggota Divisi Materi dan Metode MPAB HMK ‘AMISCA’ ITB 2015 pun saya jalankan dengan tidak cukup baik. Tidak memperhatikan dengan detail apa yang dilakukan di divisi yang krusial, dan sekedar menilai kekurangannya saja tanpa mencari solusi yang efektif.

Dan di saat MPAB 2015 berakhir, banyak pertanyaan retoris yang saya kemukakan dalam batin. Mengenai ketidakidealan, keribetan sistem, birokrasi, pemikiran yang terlalu detail (yang saya nilai sebagai hal yang sepele), membuat saya gemas dengan MPAB berikutnya.

Rasa jumawa pun muncul semakin membesar saat mengingat di akhir semester 5 saya menorehkan pencapaian akademik yang cukup keren, dan di awal tahun 2016 dengan ajakan dari Ketua Himpunan terpilih, yaitu Akhmad Nuryana untuk menghandle proker MPAB nantinya.

Kesalahannya adalah, saya memulai program kerja MPAB ini dengan tidak sehat. Bukan fisik, namun secara mental.

Mental yang jumawa karena ajakan langsung keluar dari Ketua Himpunan sendiri, dan tidak ada orang lain yang direkomendasikan selain saya. Mental yang sakit karena konsep yang disusun tidak lagi objektif. Ya, ketakutan saya dengan berbagai hal mengenai traumatik MPAB 2014 kepada angkatan 2013 membuat konsep yang diturunkan tidak lagi objektif dan sekedar berupa pelarian. “Agar tidak terjadi hal yang sama kembali”.

Bodohnya, saya tidak merasa mental saya sakit saat memulai kepanitiaan ini. Konsep yang tidak jelas, arahan yang rabun, dan terlalu banyak ketakutan saya untuk melakukan hal yang bagi seorang “Ketua Angkatan” sebaiknya tidak lakukan. Padahal yang perlu disadari adalah posisi Ketua Angkatan dan Ketua MPAB memiliki kondisi yang berbeda, dan tidak bisa digeneralisir.

Hal-hal bodoh begitu banyak saya lakukan, dari tidak melakukan rapat kalau tidak fullteam (yang ujung-ujungnya tidak fullteam juga). Terlalu banyak berpikir sebelum mengambil keputusan, dan akhirnya keputusan memang benar-benar tidak diambil. Mulai dari inilah kekacauan dalam manajemen kepanitiaan MPAB ini terjadi. Ya, sayangnya saya tidak menyadari hal tersebut.

Seperti dari awal tulisan ini dibuat, berapa kata “saya” yang diungkapkan? Demikianlah bagaimana saya bergantung kepada diri “saya” sendiri dalam melakukan MPAB ini. Tahu bahwa adanya Ketua Divisi itu sebagai orang yang didelegasikan untuk menyelesaikan masalah yang tidak bisa dilakukan oleh Ketua Panitia, tapi itu tidak dihiraukan. Tahu bahwa bila melakukannya dengan “saya” sendiri, saya akan kelelahan sendiri, tapi itu tidak dihiraukan. Semua berfokus pada “saya”, dan dengan seiring bekerja sendiri (padahal bawahan siap membantu), kelelahan menjauhkan jiwa dengan semangat.

Semua dijadikan alasan untuk disalahkan. Terpilih menjelang liburan, kontrol atasan yang kurang, massa yang kurang partisipatif, edaran rektorat yang memunculkan pertanyaan “buat apa MPAB?”. Ya, alasan untuk disalahkan tanpa mencari solusi dengan baik. Bukan menyelesaikan, tapi lari. Lari karena sudah lelah, menghilang karena sudah capai, tak mengontrol karena kehilangan harapan.

Ya, sesakit itu Ketua Panitia. Dan dia baru sadar bahwa dia sakit di sekitar pertengahan Agustus, saat kepanitiaan sudah setengah jalan dan terlalu terlambat untuk memperbaiki berbagai hal. Tahu kalau sakit, tapi tidak tahu cara memulihkannya. Tidak tahu caranya sembuh walaupun mau sembuh. Tidak tahu cara untuk memulai dari mana, padahal mau memperbaiki.

Ternyata selama ini saya amat jauh dari Tuhan. Saya bergerak sendiri, berjalan sendiri, berusaha sendiri, lelah sendiri, capai sendiri, muak sendiri. Saya beragama tapi saya tak berohani. Tak ada roh yang mengisi apa yang harusnya ada di dalam diri saya.

Lalu apa maksud dari tulisan ini? Tulisan sok religius yang berusaha mendoktrinasi dan membenarkan atas segala kekacauan MPAB kali ini?

Pembenaran belaka dari Ketua Panitia dengan mengait-ngaitkannya pada iman? Sehingga Ketua Panitia tak bisa disalahkan sedemikian rupa, karena “mentalnya sakit”?

Itu terserah pada kalian, dan bukan saya yang akan menjawabnya. Namun demikian adanya, dan bagaimana saya jauh dari Tuhan membuat berbagai masalah di MPAB ini, termasuk kehidupan pribadi saya saling bercampur dan makin diperumit. Makin sulit, walaupun saya tahu saya sedang sakit. Namun apa daya selain saya melanjutkan dan berusaha memperbaiki apa kehancuran yang saya sudah mulai dari awal?

Ya, yang saya tahu setelah saya sakit, kebertahanan adalah satu-satunya yang terbaik. Tapi, kebertahanan yang tak tahu apa yang harus dia lakukan, mungkin lebih tepatnya karena kondisi sudah begitu rumit untuk direwind dari awal?

Kenyataan itu muncul saat simulasi dan TFT sudah dijalankan. dan tak dapat dinampik lagi akan dilangsungkan interaksi demi interaksi. Apa yang harus saya lakukan? Itulah masa kebingungan dan kegelapan terbesarnya. Saat nasi benar-benar menjadi bubur. Bubur. Karena perencanaan dari awal sudah kacau, dan gagal merencanakan sudah berarti merencanakan untuk gagal.

Namun yang saya tahu untuk sedikit menebus dosa adalah bertahan sampai akhir. Walaupun tidak tahu apa yang dia harus lakukan. Dan itu saya coba lakukan.

Pedihnya, saat sadar bahwa “mental saya selama ini sakit”, semua tidak berbalik 180 derajat menjadi dunia yang utopia. Dunia jelas tidak berubah, dan tetap saja kenyataan menampar muka saya untuk segera mengambil tindakan. Tapi, sebodoh itu, dan saya tetap berkutat dalam berbagai pikiran pengandaian, sehingga tidak mengambil tindakan.

Ya, interaksi satu demi persatu dijalankan, dan MPAB ini makin kehilangan rohnya. Segala impian dan idealisme ketinggian yang saya tanamkan dari awal mulai tergerus dengan segala ketidakmatangan konsep dan kurangnya kontrol. Akhirnya, “semua tetap berjalan”, namun “kehilangan rohnya”.

Semua makin menjadi-jadi saat secara subjektif sebagian massa menilai bahwa kelakuan peserta menunjukkan kekurangan respek. Dan akhirnya dengan segala pertimbangan pelantikan diundur, dan data-data yang dibutuhkan sebagai pertimbangan melantik dirombak ulang. Visi Misi yang begitu tinggi akhirnya dijatuhkan ke dasar. Dari “mahasiswa kimia yang tahu apa yang harus dia lakukan sebagai mahasiswa kimia”, menjadi “mahasiswa kimia yang berkenan mengenal teman seangkatannya dan kakak tingkatnya”.

Itu semakin menjatuhkan mental saya, di saat saya sadar belum pulih. Blaming, fallacy, overthinking berkutat dalam pikiran, padahal, yang saya pahami, setiap orang memiliki pembelajarannya masing-masing, dengan cara masing-masing. Saya tahu dan yakin, angkatan 2015 tidaklah seburuk yang diutarakan oleh orang-orang. Tidak seburuk pikiran burukku. Tidak seburuk itu.

Namun, apa daya, pelantikan tetap diundur. Diundur bukan menjadikan persiapannya lebih baik, malah lebih kacau. Lagi-lagi, apa yang harusnya tidak perlu saya lakukan sendiri, tetap saya lakukan sendiri. Walaupun di saat itu pikiran saya mengatakan bahwa hal itu yang terbaik, karena saya sudah mengacaukannya dari awal, saya harus bertahan sampai akhir, saya yang harus menyelesaikannya sendiri tanpa merepotkan orang lain.

Akhirnya, saya sadar, bahwa dengan diundurnya pelantikan, sebenarnya bukan untuk “memantaskan adik-adik saya”. Namun sebenarnya menguji keikhlasan para “pengkadernya”. Sedang “memantaskan” pengkadernya. Benar-benar siap untuk menerima adik baru? Benar-benar yakin untuk merangkulnya nanti saat mereka datang ke himpunan?

Ya, segala ketakutan bodoh saya. Apakah acara ini bisa jalan, apa acara itu bisa jalan, jauh menghantui pikiran melebihi dari “apa esensinya”? “Apa masih ada esensi yang bisa diperjuangkan”?

Acaranya berjalan kok. Tetap saja pelantikannya berlangsung, walaupun jam demi jam berlalu dengan sangat berat dan melelahkan secara mental dan fisik. Akhirnya pun berlangsung dan selesai.

Lalu, dengan segala rasa bersalah dan berdosa dengan memulai kepanitiaan ini melalui mental yang sakit, entah apa yang kalian nilai, tak bertanggung jawab, mencari alasan, alibi, tidak amanah, semua ketakutan dan beban pikiran itu membuat saya menjauh dari himpunan selama hampir sebulan ini.

Di satu sisi, tuntutan untuk segera menyelesaikan tugas akhir sebagai janji saya kepada dosen pembimbing dan dosen wali selekasnya program kerja ini berakhir, rasa belenggu beban dan kesakitan mental itu lama kelamaan memudar. Dan itu memudar seiring dengan jam demi jam yang berlalu yang saya habiskan di Laboratorium Kimia Fisik Material.

Dengan segala hal yang sudah berlalu, akhirnya saya memahami sesuatu.

Rekan kami, yang tak perlu disebutkan namanya, menjalankan suatu program kerja, dan keberlangsungannya pun chaos, kacau. Hingga evaluasi pun identik dengan “pembantaian” habis-habisan. Salah satu program kerja yang mewarnai kelamnya masa-masa awal angkatan 2013 di himpunan. Ya, di satu sisi kesalahan kami, ketidakdewasaan kami. Namun sejak itu, rekan kami tak banyak terlihat lagi di himpunan, bahkan di kampus. Sulit sekali mengontak dia.

Namun, yang terjadi adalah sindiran, ocehan yang kurang mengenakkan, desas desus yang bikin telinga tak nyaman. Jarang sekali muncul dukungan moriil kepadanya. Bahkan, dosa itu pun saya juga lakukan, padahal sebagai Ketua Angkatan.

Saya, kami semua, tidak memahami apa yang terjadi, apa yang dia pikirkan, apa yang dia tanggung. Apa yang dia rasakan. Kami bernaung di dalam definisi kami sendiri bahwa “menghilang” adalah rambu untuk dijauhi. Blame for.

Itu yang saya rasakan selama sekitar sebulan setelah menjalani MPAB ini. Kekacauan dan segala kesalahan yang saya lakukan sebagai Ketua membuat kaki ini sangat berat untuk dilangkahkan hanya sekedar melewati sekretariat. Rasa takut, beban, lelah, khawatir, segan, enggan, tak nyaman. Bukan lagi karena menyalahkan sistem himpunan, tapi semua berbalik menjadi ketakutan akan rasa bersalah saya terhadap sistem himpunan.

Itu nyata, benar-benar nyata. Ilusi itu menjadi benar-benar nyata, padahal mungkin teman-teman kita sebenarnya tak menganggap hal tersebut seserius itu. Ketakutan.

Saya yakin sebagian besar pembaca akan menganggap hal tersebut adalah ketidakdewasaan yang tak perlu diperhatikan lebih lanjut. Kekanak-kanakan dan ketidaktegaran yang sebaiknya diabaikan saja. Tak kuat, lemah, tak pantas berhimpun.

Ya, mungkin itu semua benar kalau himpunan adalah hutan rimba. Yang terkuat yang menang, yang lemah akan musnah. Ya, hukum alam yang berlaku. Seleksi alam yang berlaku.

Ya, kalau memang kita semua tak lebih dari binatang.

Bahkan nampaknya, binatang pun lebih mulia dan lebih memperhatikan rekan-rekannya satu sama lain dibandingkan kita.

Apakah kita terlalu egois, terlalu mengutamakan diri sendiri, “aku, aku, aku”. Sehingga kekuatan yang membuat kita bisa bertahan sejauh ini tak disadari membuat benteng kesombongan untuk tidak memahami, sekecil pun, perasaan atau beban rekan kita?

Saya yakin himpunan ini tempat belajar bagi kita semua. Dan hak untuk belajar kita miliki dengan bebas. Risiko akan kesalahan yang kita lakukan di sini tak lebih berat daripada resiko memasukan sianida dalam kopi Vietnam. Banyak berbagai jenis orang dan berbagai dasar yang berbeda. Ada yang ahli di sana, ada yang ahli di sini. Kalau boleh saya berharap, mengapa kita tidak sedikitpun berusaha merangkul teman-teman kita yang mungkin sedang mengalami kejatuhan mental atas acara yang chaos, kacau, dan segala kelelahan tersebut?

“Apakah kamu tidak dirangkul?”, “Bukankah kamu yang menjauh sendiri?”,”Kita semua sudah saling dewasa, buat apa terlalu memikirkan orang lain?”. Ya, saya tetap dirangkul, walaupun saya yang menjauh sendiri, dan kita sudah saling dewasa.

Namun, apa yang lebih indah daripada himpunan sebagai tempat belajar semua orang, saling mengalami pembelajaran dan kebermanfaatan satu sama lain. Menerima evaluasi dan saling menutup kelemahan satu sama lain demi kebaikan bersama. Di saat ada yang mengalami kejatuhan mental, kita bisa peka untuk mendeteksinya, dan berusaha merangkulnya, setidaknya memastikan bahwa dia tidak sendirian, bahwa dia tidak berpikir dia sendirian, dan bahwa dia tidak berusaha sendirian.

Ya, saya baru bisa merasakan apa yang menjadi visi pamungkas saya di himpunan ini. Apa yang saya cari-cari di himpunan ini. “Peka”. Yang dimulai dari mengenal orang lain, berpikir dengan landasan keilmuan kita, melakukan proses perenungan kreatif, dan diakhiri dengan komunikasi.

Saya paham, betapa berat orang-orang yang sempat melalui apa yang disebut mayoritas sebagai “kegagalan” untuk tetap bertahan di himpunan. Untuk tetap mau berjuang dan belajar bersama. Mungkin mereka hanya butuh sedikit rangkulan dan kerendah hatian telinga kita untuk mendengarkan bebannya, sedikit kerendah hatian mulut kita untuk mengucapkan “tetap semangat ya, pasti bisa”. Karena himpunan ini tempat belajar bersama, dan amat disayangkan hanya digunakan oleh segelintir orang saja.

Sedikit saja, kepekaan itu, yang akhirnya saya berhasil peroleh walaupun melalui “sebuah kegagalan” dari program kerja. Akhirnya. Kepekaan itu bisa saya peroleh bukan saat saya berjuang mencari-carinya selama menjadi Ketua Angkatan. Namun diperoleh saat saya menjadi Ketua MPAB HMK ‘AMISCA’ ITB 2016.

Terdengar sepele, namun merupakan penemuan yang begitu besar bagi saya. Terdengar egois, tapi apa daya yang bisa saya pertanggung jawabkan dibalik segala kegagalan memanajemen suatu kepanitiaan, selain esensi yang bisa saya bagikan, salah satunya melalui tulisan singkat ini. Semoga pembaca berkenan untuk memahami hal tersebut.

 

Terima kasih adik-adikku, yang berkenan mengikuti kegiatan ini, semoga kalian memperoleh hikmahnya. Kembangkanlah sayap kalian jauh lebih lebar dan berkaryalah, temukan segala hal positif dibalik semua kegagalan yang kalian lakukan.

Terima kasih stakeholder HMK ‘AMISCA’ ITB 2016, atas kepercayaannya hingga akhir kepada aku dan kawan-kawanku. Semoga Tuhan meridhoi kalian semua.

Terima kasih massa HMK ‘AMISCA’ ITB, yang amat banyak secara tidak langsung mengajarkan apa arti fundamental dari sebuah “komunikasi”. Yang digaung-gaungkan berulang kali di MPAB kali ini.

Terima kasih swasta dan alumni HMK ‘AMISCA’ ITB, yang kembali membuatku berpikir ulang atas citra “swasta dan alumni” selama ini. Dan betapa bahayanya suatu generalisir. Dan betapa besar rasa sayang kepada adik-adiknya atas kerinduan memperoleh pembelajaran yang serupa, bahkan lebih baik.

Terima kasih Tim ku, MPAB HMK ‘AMISCA’ ITB 2016. Yang ikhlas berulangkali disakiti saya sebagai Ketua Panitia melalui segala kesalahan dan kealpaan yang dia lakukan. Berulangkali, dan membosankan. Tapi masih tersisa semangat untuk bertahan sampai akhir, walau betapa tak mengenakkan hal tersebut. Hanya Tuhan yang Maha Kuasa yang bisa membalas keikhlasan dan ketulusan kalian.

Terima kasih, pencipta skenario terbaik di dunia ini. Yang telah berhasil mengajarkanku bahwa :

Seringkali pembelajaran terbesar terselubung di balik rasa sakit yang semu.

 

Tuhan Memeluk Kita Semua. Amin.

Ketua MPAB HMK ‘AMISCA’ ITB 2016

 

Ivan Kurniawan

Sm’13

 

 

 

 

 

 

Manusia

Ilmu pengetahuan alam yang menyusun ilmu pengetahuan sosial, didasari oleh ilmu fisika. Dijadikannya metode ilmiah yang berasal dari ilmu fisika adalah buktinya. Mengapa bukan matematika? Matematika adalah ilmu yang bukan berasal dari alam, tapi murni buatan manusia. Maka dari itu, sedari kecil kita selalu ditegaskan mengenai MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), dan bukan digabung. Namun, itu tetap tak mengurangi urgensi matematika sebagai alat problem solving masalah-masalah yang dihadapi oleh IPA.

Apa yang dipikirkan manusia melalui penginderaan (penggunaan panca indera) adalah proses melakukan kegiatan deduktif rasional terhadap kegiatan induktif empirik. Ditinjau dari sudut pandang filsafat, rasional-empirik layaknya seperti ide-lahiriah yang digalakkan oleh Plato. Ilmu pengetahuan yang kini kita rasakan adalah usaha keras dari ribuan bahkan jutaan manusia, yang akhirnya menyadarkan kita tak patut untuk berbangga diri akan prestasinya.

“..di otak kalian kini, membuncahlah ide-ide yang tentunya tak lepas dari ejakulasi ide-ide moyang kalian.”

Ilmuwan sejati akan rendah hati dan bersemangat kerja sama dengan ilmuwan lainnya, untuk saling membelajarkan serta maju bersama.

Dan apakah kita sudah sadar atas pentingnya membelajarkan satu sama lain?

Maka, seharusnya selalu muncul forum komunikasi yang berupa seminar dan penulisan karya ilmiah. Komunikasi yang tidak lepas dari dua arah, dua cara. Lisan dan tulisan. Bicara memang penting, namun gendang telinga akan termakan usia, disantap tanah, dan semakin banyak kata-katamu yang memantul-mantul di banyak gendang telinga, makin melantur dari kenyataan ucap sebenarnya. Maka dari itu, apapun perlu dituliskan, dan diarsipkan dengan rapi. Sebagai rekaman sejarah, dan akhirnya tulisan pun tak bisa lepas dari penjelasan verbal yang kalian lakukan. Semuanya berhubungan, timbal-balik.

Tentu saja, secara normatif, kita sebagai manusia akan menjawab pertanyaan di atas dengan ya, penting membelajarkan satu sama lain, namun sayangnya kita tak pernah sadar terhadap hal tersebut. Lebih tepatnya, tak benar-benar sadar. Kita tahu betapa pentingnya, namun terlalu malas untuk bergerak (mager). Membiarkan orang lain dulu yang bergerak dan menunjukkan jalannya. Terlalu malas untuk menjadi pelopor dan pionir. Serupa dengan penulis yang terlalu malas untuk bergerak di dunia nyata, dan sibuk bermasturbasi sastra pada tulisan ini.

Kalau kita terlalu malas bergerak, apakah memang kita benar-benar sadar? Atau kita kini hidup di khayalan kita sendiri?

Marilah kita rujuk betapa hebatnya potensi manusia ciptaan Tuhan ini melalui buku ini. Katanya, kita berakal, berbudi, sehingga beradab, yakni mengenali baik-buruk, salah-benar, memiliki daya apresiasi keindahan dan seni budaya, memiliki kemampuan berkreasi, mencipta, berinovasi, menalar, serta mengembangkan ilmu pengetahuannya.

Alangkah indahnya dan hebatnya kita sebagai makhluk Tuhan yang memiliki berbagai potensi yang sudah disebutkan. Sayangnya, dibalik segala kehebatannya, kealfaannya menyedihkan.

Hanya sekedar mengenali baik-buruk dan salah-benar. Mengenali, dan mungkin sekali tak benar-benar mengetahui, dan itu hal sederhana yang membuat kita tak pernah bisa mendefinisikan apa itu baik, apa itu buruk, apa itu benar, dan apa itu salah. Kita tak pernah bisa mendefinisikannya sehingga kita merasa puas dengan definisi itu.

Tak berbeda dengan seorang sahabat yang begitu kita kenali, namun tak kita ketahui seluruhnya. Kita, tak akan menemukan definisi yang mampu memberikan orgasme alam fikir kita, mengenai sesuatu yang kita kenali. Ya, karena kita hanya bisa mengenalinya, dan kita tak pernah mengetahuinya.

Hanya bisa mengena, karena hanya bisa mengenali.

Kalau sahabat begitu jauh dan sulit untuk kita miliki, seberapa kita mengenali diri kita sendiri?

Selama 7 periode, ilmu pengetahuan alam mengembangkan dirinya. Mari kita ringkas satu-persatu :

  1. Jaman Pra Sejarah (Sebelum 500 SM)

Yang katanya beradab itu, dimulai di Babilonia dan Mesir bahkan 5000 tahun sebelum masehi. Dan tak disangka, ilmu bersifat terapan, dan belum mendasar seperti yang kita kenali kini. Tak berbeda dengan masa kecil kita, dimana pertama kali dikenalkan terhadap ilmu pengetahuan, kita akan dipaksa “melahap” berbagai fakta dan fenomena oleh guru-guru kita tanpa banyak dijelaskan. Kita dilatih untuk memahami terapannya terlebih dahulu sebelum menemukan penjelasan, dan mungkin itulah hakikat kita merujuk dari sejarah ilmu itu sendiri.

Bangsa Babilonia menemukan saros, yaitu keterulangan konstelasi, sementara itu Bangsa Mesir menemukan berbagai ilmu lainnya, dan yang paling mutakhir mengawetkan raja-rajanya dalam bentuk mumi.

  1. Jaman Yunani Kuno (600 SM – 100 M)

Yang katanya ilmu pengetahuan murni itu, berkembang atas dasar kegairahan ingin tahu semata baru lahir di jaman ini. Bangsa Yunani inilah yang menyusun fondasi filsafat yang kita kenali kini. Maka dari itu ilmu pengetahuan di jaman itu tak lepas dari filsafat. Murni, rasional, dan analitik.

Thales, sang filsuf pertama sibuk mempertanyakan keberadaan segala sesuatu, baik keteraturan dan adanya kaidah yang mengatur segalanya. Heraclitus dengan segala perubahan yang terjadi seperti aliran air sungai. Parmenides dengan metafisikanya dalam pendapat bahwa penyusun alam kebendaan itu tetap. Dia menggunakan penalaran deduktif murni semata tanpa fakta empiri. Nantinya, dia adalah pendiri metode logika menuju pemikiran abstraksi.

Anaxagoras dengan pendapat bahwa setiap benda tersusun dari partikel lembut yang berbeda. Sifat benda inilah yang didasari oleh partikel lembut yang mendominasinya. Dilanjutkan oleh Democritus yang menggagas atom sebagai partikel lembut tersebut. Atom yang kasar (bayangkan partikel lembut yang kasar (?)) memberikan rasa pahit dan yang halus (bayangkan partikel lembut, yang halus) memberikan rasa manis. Penglihatan yang berasal dari atom yang dipancakan oleh benda yang dilihat dan nantinya melapisi mata kita.

Democritus inilah yang akhirnya menggiring manusia untuk menemukan ilmu pengetahuan alam yang kedua, dan sebagian besar dibenci oleh jutaan siswa dan mahasiswa di dunia.

 

Kimia

 

Namun menarik bila kita menyelami cara pandang Democritus. Masa lalu dengan orang-orang kasar, membentuk kisah yang pahit. Begitulah dengan orang-orang halus disekitar kita, akan membentuk pengalaman yang manis (orang halus, bukan makhluk halus). Pilihan kita kini untuk menentukan siapa yang seharusnya berada di sekitar kita. Jauh daripada itu, pilihan kita pula untuk menentukan kisah apa yang ingin kita jalani. Ingat bahwa kita tak akan pernah lepas dari keduanya, pahit dan manis akan dirasakan. Seberapa kita tahan untuk merasakan keduanya? Entahlah.

Selanjutnya, kita sudah banyak mengenal orang-orang ini. Socrates, Plato, dan Aristoteles yang membentuk dasar pemikiran dunia Barat. Tak perlu lagi penulis menjelaskan panjang lebar mengenai 3 orang ini, karena lebih banyak lagi referensi yang beredar secara komersial mengenai pemikiran beliau-beliau ini.

  1. Jaman Keemasan Romawi (100-400 M)

Yunani tergantikan oleh Romawi, namun peradabannya terus berkembang. Di jaman ini ilmu hukum dan tata negara berkembang pesat, sayangnya ilmu pengetahuan tidak mengalami hal yang sama. Akhirnya di abad ke 5 Peradaban Yunani benar-benar berakhir, seiring merebaknya Katolik dan Islam.

  1. Masa Gelap (400-1100 M)

Kekacauan dari bangsa Hun dari Asia Tengah merajai Eropa. Semua peradaban yang dijamah bangsa Hun ini stagnan dan terancam punah, namun tidak dirasakan oleh bangsa Arab. Bangsa inilah yang menancapkan tonggak awal ilmu aljabar dan ilmu kimia itu sendiri. Namun, kemajuan secara umum terjadi setelah bangsa Hun runtuh. Di balik masa gelap tersebut, tetap ada yang bisa diambil hikmahnya, seperti usaha bangsa Eropa menjadi dewasa seiring berbagai masalah yang menimpanya.

  1. Jaman Kebangkitan (1300-1800 M)

Beralih dari bangsa Arab dan Yunani, dimana di jaman ini bangsa Eropa bangkit dari keterpurukannya, dan menguasai benar permasalahan filsafat. Era skolastik namanya, di saat kaum intelektual begitu subur bermunculan dimana-mana sebagai imbas dari ketenteraman dan stabilitas sosial politik. Sampai kemunculan Roger Bacon dari Inggris yang menyadarkan betapa pentingnya metode empiris dengan tombak utama pengamatan dan pengukuran.

Deduktif rasional hanya bermakna bila cocok dengan hasil pengamatan yang empiris, katanya. Maka dari itu muncul usaha verifikasi melalui induktif empiris.

Bacon mengkritik pembenaran yang mengandalkan penalaran tanpa pengamatan empiris. Inilah bibit metode ilmiah yang kita kenal sekarang, bahkan yang sering kita ciderai sebagai insan akademis. Berujar mencari kebenaran, padahal hanya pembenaran. Entah nalar kita yang begitu tajam, atau mata kita yang terlalu buta dengan keadaan empiris.

Apakah ketajaman neuron otak kita sedikit banyak merabunkan mata kita?

Selanjutnya, nama-nama yang kita kenal seperti Da Vinci, Copernicus, Tycho Brahe, Galileo, Kepler, Snellius, yang tak perlu lebih banyak dijelaskan lagi disini.

Bacon yang kedua, Francis Bacon bisa kita katakan amat berjasa sebagai pencetus filsafat ilmu pengetahuan agar lebih bermanfaat bagi kehidupan umat manusia, salah satu caranya dengan membudayakan penelitian. Beliaulah salah satu perintis Royal Society of London.

Bacon tidak sendirian, bersama Rene Descartes, mereka berdualah pendiri filsafat modern. Perbedaannya adalah Bacon yang menuntut kepastian dari pengamatan empiris, Descartes menuntut pembenaran melalui analisa matematika.

Menurut Descartes, tujuan pengembangan ilmu pengetahuan adalah mereduksi hukum alam menjadi penjabaran rumus matematis. Dengan kata lain, mematematiskan alam. Maka dari itu Descartes disebut pelopor rasionalisme filsafat modern.

Metode Empiri yang dibangkitkan Bacon, diikuti John Locke dan David Hume, pada intinya mengatakan bahwa semua ide adalah hasil dari kegiatan empiri yakni pengamatan. Setelah merebak rasionalisme oleh Descartes, nanti akan bermunculan orang-orang seperti Spinoza, Leibniz, Kant, Hegel, dan Comte.

Di jaman inilah, muncul gerakan pencerahan untuk meninjau kembali mengenai otoritas sosial, politik, dan keagaman di samping ilmu pengetahuan. Newton, fisikawan yang mempersulit kehidupan siswa-siswa seluruh dunia dengan 3 hukumnya  hidup di era ini. Begitu pula Martin Luther dengan reformasi Protestan pada 31 Oktober 1571, semakin mewarnai era ini.

  1. Jaman Pengembangan (1800-1900 M)

Tidak banyak perubahan drastis, hanya penerapan metode ilmiah sebagai satu-satunya metode pengembangan ilmu pengetahuan. Era yang sangat pendek penuh dengan inovasi para saintis, yaitu Bernoulli, Euler, Black, Franklin, Cavendish, Coulomb, Carnot, Helmholtz, Young, Fresnel, Faraday, Henry, dan Maxwell. Sebagian besar fisikawan mewarnai jaman ini, menyusun apa yang nantinya disebut fisika klasik.

  1. Jaman Modern (1900-sekarang)

Embrio filsafat modern di abad pertengahan, akhirnya makin dewasa dan membentuk modernisasi dunia di jaman ini. Industri dan teknologi berkembang. Revolusi kedua dari ilmu pengetahuan muncul sebagai semangat abstraksi transedental, dimulai dari konsep elektron dan partikel subatomik lainnya. Tak perlu ditanyakan lagi, di jaman ini konsep fungsi gelombang dikemukakan. Dan di era ini pula semua saintis yang memenuhi buku kimia di bab-bab awal bermunculan. Penyusunan hipotesa lebih tajam dan efektif. Abstraksi transedental pula menganugrahkan manusia akan rasa berfantasi untuk menjelaskan berbagai hal di dunia ini, melalui konsep-konsep baru yang mereka munculkan, hanya sekedar untuk mencapai realita yang lebih luas.

Di jaman inilah, intuisi begitu intens untuk dilatih. Pengalaman harus diperbanyak tanpa merasa pernah cukup.

Manusia muncul 10000 tahun sebelum anda membaca kalimat ini. Dan manusia baru memiliki peradaban selama 2500 tahun. Pengetahuan yang nenek moyang anda miliki sudah ada sejak 5000 SM. Namun tak berkembang, dan baru dipakai benar-benar pada 600 SM.

Begitulah dengan Studi Teater Mahasiswa ITB. Lahir puluhan tahun yang lalu, di hari yang sama dengan hari ini. Muncul dari kegelisahan orang-orang yang ingin berteater. Ingin memanusiakan manusia, katanya.

Bertahun-tahun mengarungi berbagai jaman yang penuh dengan ombak pasang surut. Walau kisahnya tak seromantis Laila dan Majnun, dan tak setragis Cinderella. Walau mengarungi waktu yang begitu singkat, dan tak layak dibandingkan oleh peradaban umat manusia itu sendiri.

Namun disinilah kami berada, di peradaban kecil kami, yang sedang dan senantiasa belajar untuk menjadi besar, makin besar, tanpa perlu menjadi yang paling besar. Inilah tempat kami, yang mengarungi masa pra sejarah dimana kami tak mengerti bagaimana mengarsipkan apa yang kami punya dan apa yang kami ketahui.  Inilah tempat kami dimana kamilah manusia-manusia kuno, yang melontarkan berbagai pendapat tentang eksistensi kami, terusik dengan kegelisahan dan pertanyaan, yang memunculkan tujuan tentang keberadaan kami itu sendiri, sekaligus mempertanyakannya setiap saat.

Inilah tempat kami melalui jaman keemasannya, penuh dengan lika-liku kilau kemilau gemerlap panggung, dan inilah tempat kami jatuh ke dalam kegelapan karya. Kematian yang suri, dan yang sedikit demi sedikit kami bangkitkan lagi untuk mengarungi jaman kebangkitan.

Namun, dimanakah kami berada, sekarang?

Apakah kami memasuki era yang sempit untuk mengembangkan kebangkitan kami? Atau kami sudah benar-benar berevolusi di jaman modern yang kami jalani?

 

Atau, kami hanyalah benih-benih busuk yang sibuk tenggelam dalam euforia kebangkitan ?

 

Entah, karena aku pun tak tahu jawabannya. Mungkin kau tahu, mungkin kau tidak.

 

Mungkin

 

 

 

 

Selamat Ulang Tahun, Studi Teater Mahasiswa ITB!

 

 

Manusia yang berharap dimanusiakan

 

 

 

 

 

 

 

 

Tribute :

Pengantar Sejarah dan Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam, Peter Soedojo

Segala semangat, kata-kata, dan wajah manisnya, Aidah Fithriah

 

 

Selamat ulang tahun, Aidah 🙂

Sebuah Cara Pandang yang Lain : Dosa

Tadis

Penghilangan Tadis menjadi isu yang (mungkin) hangat dalam Konsep MPAB yang dibawa oleh saya. Banyak spekulasi yang berkembang, dari ketidaksukaan saya pribadi terhadap tadis, masalah pribadi saya terhadap tadis, dan berbagai hal lainnya. Mungkin tulisan ini dapat membantu pemahaman kawan-kawan sekalian.

Di penjelasan visi misi saya pada artikel “Sebuah Cara Pandang Lain : MPAB” yang dilansir di ivangoblog.wordpress.com, saya menjelaskan dengan singkat atas ketidakrelevansian konsep tadis dengan realita jaman yang sudah dinamis. Saya akui, saya menyampaikan argumen tersebut kurang berdasar. Kurang kuat, dan saya harapkan teman-teman memahami ketidakberdasaran argumen tersebut, dan bisa mengkritisinya di Hearing Calon Ketua MPAB. Sayangnya, forum yang sepi peminat hanya memunculkan beberapa pertanyaan kritis mengenai hal tersebut.

Terlepas dari hal itu, saya amat mengapresiasi forum Hearing tersebut, karena itu bisa saya katakan sebagai forum paling ilmiah yang pernah saya jalani sebagai anggota Amisca. Atas partisipasi kawan-kawan, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya.

Kata seseorang, saya harus berdasar dalam melakukan tindakan. Dan sebelum melakukan tindakan, tentunya saya memiliki hipotesa.

Hipotesa yang saya miliki adalah, tidak adanya angkatan 2013 yang memenuhi kriteria saya menjadi Tadis.

Mengapa 2013, mengapa memunculkan gap angkatan? Bukan, bukan maksudnya gap angkatan. Saya tidak mendiskreditkan angkatan 2014, namun saya mengutamakan 2013 dari segi pengalaman di berbagai dinamika berhimpun, yang seharusnya membuat kedewasaan lebih muncul, sehingga saat menemukan ketidakidealan, mereka dapat mengkritisinya dengan cara yang diterima.

Sayangnya, sedari dilantik, amat jarang forum dihadiri oleh angkatan 2013. Mengkritisi kebanyakan di luar forum dan seringkali tak berakhir pada solusi. Padahal, forum adalah ajang yang mengembangkan kemampuan kita berpendapat, berdialektika sehingga dapat diterima oleh orang banyak. Sayangnya, forum tersebut bukanlah menjadi sesuatu yang dihargai oleh massa secara kebanyakan. Kita amati sendiri, datang tepat waktu, fokus forum sudah berganti pada datang kapanpun jua, pergi kapanpun jua, dan datang fisik pada forum. Jiwanya bergeser entah kemana. Mungkin tertutup headset, monitor laptop, atau lembaran jurnal. Tak perlu ditampik, saya pun sehina itu dulunya.

Kalau begitu, bagaimana dengan harapan saya sendiri sebagai pembawa konsep, mengenai Tadis itu sendiri? Saya memiliki ekspektasi yang begitu tinggi terhadap tadis. Karena menurut saya, tadis bukanlah sekedar penjaga flow, penegak aturan, pemberi konsekuensi, atau apapun. Tadis, adalah sesuatu yang jauh lebih sakral daripada semua itu. Bahkan tak bisa dilukiskan dengan kalimat sekedar “role model”. Tadis seharusnya memiliki kristalisasi berbagai elemen sebagai kader yang ideal. Ideal disini bukanlah kesempurnaan, melainkan kesadaran akan ketidaksempurnaannya, sehingga ingin senantiasa menjadi seorang pembelajar.

Pembelajaran adalah sepanjang hidup. Bila difokuskan pada MPAB, tidak sekedar di proses MPAB saja, namun juga sebelum dan sesudahnya. Tapi, kita tidak bisa menjanjikan apapun di masa depan. Bahkan berbagai komitmen yang saya lontarkan untuk menjadi Ketua pun bisa berbalik 180 derajat dan saya ingkari semuanya. Tidak ada yang tahu.

Kalau begitu, pertanyaannya adalah, bagaimana kita menentukan orang-orang yang tepat? Ya, tentunya faktor “sebelumnya”. Track record. Apa yang sudah pernah dijalani, apakah diimplementasikan secara benar-benar. Seperti apa sih dia, terlepas dari MPAB itu sendiri?

Bukan semata-mata orang yang menjadi luar biasa ideal menjelang seleksi Tadis. Tiba-tiba tepat waktu, hafal seluruh budaya himpunan, dan bisa suara perut. Bukan semata-mata itu, karena semua orang pun bisa melakukannya. Tapi jauh daripada itu, orang yang benar-benar mengimplementasikan kesakralan tadis dalam kehidupan sehari-hari, tanpa perlu menjauhkan dirinya dari orang lain.

Bukan sekedar orang yang menjalankan tugas. Tapi orang yang menaruh “roh”nya pada tanggung jawab yang ia jalani. Tidak perlulah jauh-jauh menjadi tadis. Bagaimana sih kita menyadari tanggung jawab kita sebagai anggota himpunan?

Apakah kita terlalu banyak mengutamakan hak, dibanding kewajiban kita?

Perlu disadari, saat saya menulis hal ini, saya tidak menempatkan diri sebagai orang yang luar biasa ideal. Tidak, saya memiliki banyak track record, dan sebagian besar tidak saya jalankan dengan baik. Sekedar formalitas belaka. Mungkin dengan mencalonkan diri sebagai Ketua MPAB, bisa sedikit menebus dosa saya akan pengutamaan hak yang saya lakukan selama ini.

Namun argumen, harus dibuktikan dengan data. Dan saya berusaha mengumpulkan data dari anggota himpunan angkatan 2013, dengan pertanyaan sederhana, seperti “menurutmu tadis itu apa?”. Dimulai dari 14 Mei, selama 2 minggu saya coba tunggu jawabannya, saya akumulasikan, dan jawabannya cukup mencengangkan sehingga perdebatan batin tak pernah berhenti berkibar. Jawaban-jawaban terlampir.

Cara pandang saya memandang tadis, ternyata tidak serupa dengan kawan-kawan. Jawabannya berkisar pada penyelenggaraan teknis, aturan, dan flow. Apakah aku yang memiliki overekspektasi atau, himpunan memang “kritis”?

Sungguh, dengan jawaban seperti itu, saya semakin bulat untuk meyakini, bahwa tidak ada orang-orang yang memenuhi kriteria saya sebagai Ketua MPAB, untuk menjadi seorang Tadis. Tidak bisa semata-mata diperbaiki melalui briefing atau sekolah tadis dalam beberapa pertemuan. Ada perubahan paradigma yang perlu kita lakukan.

Tadis, tidaklah sekedar aspek teknis yang akhirnya memunculkan impresi dll. Tadis adalah hal yang sakral, dan dengan memasukkan orang-orang yang sudah tidak memenuhi kriteria sesakral itu, bukankah itu akan merendahkan martabat dari Divisi Tadis dan orang-orang di dalamnya itu sendiri? Sungguh, bukan karena berbagai spekulasi yang berkembang mengenai ketidaksukaan saya yang tak berdasar. Saya hanyalah orang yang sedikit berharap, kesakralan divisi Tadis tidak terciderai.

Dan saat saya merenung, bukan sepenuhnya kesalahan 2013 bila mereka memiliki cara pandang seperti itu, dan lebih tepatnya sebagian besar tidak menjawab. Mereka tidak paham urgensinya, mereka tidak mengalami “pencerdasan” mengenai kesakralan berbagai elemen dalam kaderisasi itu sendiri. Berbeda dengan aspek lapangan lainnya, yang asal semua punya tekad dan niat, mereka bisa. Tadis bukan semata-mata semudah itu, karena massa harus menyadari betapa beratnya tanggung jawab dia untuk menjadi seorang tadis, karena karakter itulah yang seharusnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari, sebelum, dan sesudah proses eventual. Karena kaderisasi adalah proses sepanjang hidup.

Tanpa menyalahkan salah satu pihak, 2013 memiliki persepsi tersebut, dan itulah hasil dari proses kaderisasi yang mereka alami, dan mereka terima dari angkatan yang lebih tua, yaitu 2011 dan 2012. Saya begitu yakin, angkatan yang lebih tua memiliki pendapat yang serupa mengenai kesakralan tadis itu sendiri, namun terkadang ketidakcocokan akan mudah terjadi sehingga penyampaian yang tidak dapat diterimalah yang diutamakan. Membentuk persepsi, dan yang makin menjauhkan himpunan kita dari tujuannya.

Begitu pula 2011 dan 2012, melihat dari apa yang dilakukan dari angkatan yang jauh lebih tua, begitu pula seterusnya, seterusnya, seterusnya, hingga Pak Ismono. Entah, apa yang akan dilontarkan oleh Pak Ismono, seandainya Beliau melihat himpunan yang katanya kita cintai ini, terpuruk dalam lingkaran setan yang menjegalnya sehingga tak mengembangkan keilmuannya? Berfokus pada hal lain, dan malah melupakan hal yang lebih esensial daripada itu?

Semuanya memiliki dosa, dan semuanya menurunkan dosanya. Ya, dosa turunan, dan kita semua disini memiliki kontribusi yang sama akan dosa tersebut. Pilihannya, mungkin kita bisa menghentikan dosa turunan tersebut, walaupun kita tidak akan kembali suci seperti awal. Tak ada yang membuat kita menjadi lebih tinggi daripada yang lain, karena kita sama-sama kotor. Mengapa kita tidak saling bercengkerama, berevaluasi, mendekatkan diri dan membagi pengalaman agar kita tak lagi meneruskan apa yang mungkin kita tak teruskan lagi?

Kepada adik-adikku, 2014. Lagi-lagi disini aku tak berbicara mengenai berbagai gap angkatan atau sekat itu sendiri. Semua itu hanya persepsi orang-orang, yang akan benar-benar menjadi nyata bila kalian meyakininya. Kelak, MPAB tahun depan, aku tak menuntutmu agar mengikuti kakak-kakakmu yang fana ini. Aku hanya berpesan, sadarilah kesakralan Tadis, yang tak semata-mata kau peroleh menjelang seleksinya, tapi cerminkanlah karakter itu, disiplin, pembelajar, dll tidak hanya dalam berhimpun, juga dalam menghormati para dosen kita, orang tua kita, dan bagaimana kita hidup sehari-hari. Janganlah munafik, karena sakit yang dirasa di akhir segala dosa yang kita lakukan, tidaklah main-main.

Teman-temanku, maafkan aku yang baru bisa mengungkapkan ini setelah begitu lamanya. Aku tak menemukan cara yang tepat, bahkan dengan tulisan ini. Sungguh, kalau kau berkenan untuk memaafkanku, marilah kita menebus dosa bersama-sama ini dalam MPAB yang akan kita lakukan sebentar lagi.

Dan akhirnya, aku teringat pada kata kakak-kakakku, “lakukan yang berdasar”. Dan inilah, atas idealisme ku, aku tak menemukan dasar mengapa harus ada divisi Tadis itu sendiri.

Semoga isu ini tak jauh lebih besar daripada hal-hal krusial lainnya, seperti tujuan himpunan kita, misalnya.

Ketua MPAB HMK ‘AMISCA’ ITB 2016

 

Ivan Kurniawan

Samarium 2013

Entah

Entah perempuan, gadis, atau wanita

Pertama kutemui, dalam sebuah momentum pendidikan. Salah satu tempat dimana semua harapan bangsa terkumpul. Begitu polosnya, begitu manisnya, dan begitu fananya. Melewati haribaanku, membuat semua rasa tercambuk tak berdaya. Membuat batinku terhenyak. Apa itu jatuh cinta?

Yang lainnya, yang katanya cinta padaku. Yang tak pernah mengungkapkannya dengan kata-kata. Yang menerapkannya dalam kehidupan. Yang katanya, mengimplementasikannya sejak aku ditakdirkan sebagai bagian dari dunia fana ini. Yang katanya, pemijak surga.

Ada pula yang menarik, tapi tak membuatku cukup tertarik. Namun, aku dapat menceritakannya padamu.

Seorang mungil yang berasal dari tanah nun jauh disana. Serambi dari tempat yang didambakan jutaan umat manusia.

Aku tak banyak mengenalnya. Mungkin waktu yang jarang mempertemukan, atau ruang yang jarang menyatukan.

Entah

 

Dia seorang Muslim yang taat, bagiku. Tak banyak kesempatan untuk berbincang lebih banyak agar mengenalnya. Walaupun satu kelas, berada di sayap yang berbeda dalam ruang kelas memang tidak mendekatkan kami.

Namun aku tahu, dia memiliki semangat yang begitu tinggi, yang ia bawa dari tanah nun jauh disana. Semangat untuk mengembangkan apa yang ia cinta, yaitu sesuatu yang kucinta pula.

Di saat penjurusan tiba, akupun tak kaget saat mengetahui bahwa dirinya pun masuk ke jurusan yang sama denganku.

Aku tak tahu kapan pastinya, tapi dia mulai menjunjung ketaatannya lebih dalam lagi. Dengan bercadar, niscaya dirinya akan lebih terjaga. Walaupun jarak akan mulai membatasi, dan berbagai ranah norma agama akan melingkupi diri kami masing-masing, demi kebaikan kami di masa depan.

Seperti yang aku katakan, tak banyak interaksi yang kulakukan. Tak banyak komunikasi yang kujalani. Yang aku tahu, hanyalah semangat yang luar biasa tinggi terpancar dari raganya, walau terkadang tertutup oleh kecemasan dan kekhawatiran yang masih wajar.

Mungkin dia sedikit minder, atau perfeksionis. Sedikit kegagalan sering membuatnya rendah diri, sepengamatanku. Mungkin aku salah, tapi

Aku tahu, dia sedang berjuang untuk senantiasa menjadi lebih baik. Dia tahu bahwa pendidikannya yang membuatnya begitu jauh dari halaman rumahnya bukan hal yang main-main. Menciderai pendidikan sama saja menciderai orang tuanya. Tak menghargai sakralitas ilmu pengajaran sama saja mendurhakai Tuhan.

Dan tak disangka, beberapa hari yang lalu ada kabar bahagia itu. Bahwa dia akan memulai ikatan syar’i. Menjadi satu orang pertama di angkatan kami yang memberikan kabar bahagia itu, membuatku banyak merenung.

Kita belum banyak mengenal, dan belum terlambat memang untuk mengenal.

Tapi,

ternyata kita sudah dewasa. Atau sudah dipaksa untuk dewasa?

 

 

Entah

 

 

Di tengah doa yang dilontarkan oleh kawan kita, semoga membentuk keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah. Memiliki banyak anak yang lucu dan nantinya kita semua timang-timang sayang.

Aku tak tahu cara mendoakanmu dengan baik.

 

Namun, kalau pendosa jahanam ini berhak untuk berharap, berhak untuk mengatakan semoga…

Semoga Engkau dapat membuat bahtera rumah tanggamu tentram, tenang, nyaman, dan damai. Dan begitulah nahkoda bahteramu yang akan menentramkanmu. Dengan ketentraman, mungkin di masa depan keluarga kalian adalah keluarga yang sakinah.

Semoga sakinah yang kalian capai, akan memunculkan rasa cinta yang menguatkan kalian dalam menghadapi berbagai badai yang menerjang. Jalan kalian tidaklah mudah, karena usia muda yang membara akan banyak melontarkan berbagai konflik yang menyakitkan. Namun, janganlah takut, karena semuanya akan mengalami hal itu. Teruji atau tidaknya, itu masalah nanti. Selama kalian bersama-sama menghadapinya, dengan mawaddah tentunya.

Akhirnya, mawaddah yang kalian kembangkan, semoga dilukiskan dalam rasa kasih sayang yang tulus dan ikhlas. Yang menghangatkan hubungan kalian dan menjauhkan dari berbagai perselisihan yang menghancurkan. Semoga tak sekedar menyayangi satu sama lain, namun menyayangi keluarga besar kalian, teman-teman kalian, dan menjadi kebahagiaan kecil di tengah dunia yang penuh derita kini. Mungkin, dunia fana ini butuh lebih banyak warahmah.

Namun, lagi-lagi aku tak menemukan kebahagiaan dengan mendoakanmu, kawan. Lebih tepatnya, aku gelisah. Ya, aku gelisah.

Kegelisahanku akan rasa terima kasih padamu. Aku ingin berterima kasih padamu.

Terima kasih akan mengingatkan kami, secara tidak langsung.

 

Bahwa saatnya kami untuk dewasa, lebih tepatnya, kami harus dewasa.

 

Sudah bukan saatnya kami menjadi kanak-kanak lagi.

 

Sudah bukan saatnya kalian, para pemijak surga, menjadi perempuan atau gadis.

Entah, saatnya kalian, pemijak surga, menjadi seorang wanita seutuhnya.

 

 

Selamat menikah, Novira Chandisa.

 

Dari seorang kawanmu, yang entah menjadi apa nantinya.

Entah

 

 

 

 

 

dan selamat ulang tahun, pemijak surgaku!

Tutorial Terakhir

tutorial/tu·to·ri·al/ n 1 pembimbingan kelas oleh seorang pengajar (tutor) untuk seorang mahasiswa atau sekelompok kecil mahasiswa; 2 pengajaran tambahan melalui tutor

Ga kerasa aja

Aku mulai aktif menutor itu di semester 2, dengan keprihatinan karena temen-temen kurang dibantu secara akademik. Lalu menjadi wajib hukumnya di semester 3, saat masuk jurusan kimia, dimana kebanyakan mata kuliah memang aku udah pelajari waktu pelatnas. Membuat aku lebih merasa terpanggil untuk membagikan ilmu dengan teman-teman yang kurang mendapatkan kesempatan untuk memahami lebih.

Dalam tutorial, banyak hal yang kamu peroleh. Tidak hanya sekedar lebih memafhumkan ilmu yang sudah kita miliki, namun juga dengan membagikannya berulang kali dengan teman, konsep-konsep akan lebih terpatri dalam benak kita. Tapi, patri bukan berarti saklek. Seperti halnya manusia yang bakal melakukan kesalahan karena ketidaksempurnaannya, itulah yang mereka alami dalam memahami suatu ilmu.

Kesalahpahaman dalam ilmu amat sangat mungkin terjadi, namun seiring dengan waktu, kita bakal lebih paham bahwa itu yang membuat hakekat seorang manusia sebagai pembelajar, berproses seiring waktu. Makanya manusia dituntut untuk menjadi berkembang. Begitu pula dengan ilmu yang kita pahami, tutorial menjadi ajang koreksi dan konfrontasi apa yang kita anggap benar.

Kebenaran bukanlah hal yang disimpan sendiri, namun harus dibagikan secara terbuka, menantang birahi konfrontasi untuk mendatanginya, dan terjadi konflik pendapat, diskusi, dan penemuan kebenaran. Jadi, jangan memakan mentah-mentah atas apa yang diucapkan tutor, karena ucapan mereka tidaklah selalu benar.

Namun, jangan jadikan ketidakmungkinselalubenaran adalah tameng sempurna bagi kalian, wahai tutor untuk tidak berkembang dan mencari ilmu lebih. Ingat, saat kalian berkesempatan membagikan ilmu, ada dua hal yang mungkin terjadi, amalan, atau dosa. Bila kalian tahu sesuatu yang belum teruji dan mengatakannya sebagai kebenaran, itulah dosa yang kalian turunkan terhadap kepada teman-teman kalian.

Waktu mengadakan tutor, sudah pasti lelah dan capai bakal terjamin terlaksana. Pasti muncul di benak kita, “Duh jangan nanya yang aneh-aneh deh”, “Pengin cepet beres euy” kepada orang lain. Itu ga salah, karena amat wajar terjadi. Akupun sering mengalami hal yang sama. Cuma kalau muncul kalimat-kalimat seperti itu, ingat kenapa kalian melakukan tutor. Pertanyaannya kembali lagi kepada, “seberapa ikhlas?”

Kalau aku mengadakan tutor, sistemnya adalah standby selama beberapa jam dan menunggu orang bertanya, berusaha menjawab pertanyaan mereka, dan bagi yang datang di kesempatan awal punya kesempatan lebih banyak untuk meminta penjelasan materi lebih mendalam dan komprehensif. Namun, tutor denganku membutuhkan orang yang tidak nol-nol amat dasarnya.

Saat orang datang ke tutor, seharusnya dia tidak nol-nol amat sehingga pertanyaannya bisa lebih bersifat strategis ataupun klarifikasi atas pemahaman dia, sehingga kemungkinan tutorial memberikan ilmu yang kurang tepat dapat dicegah. Cuma, kita kan ga bisa maksa semua orang akan datang dengan dasar ilmu yang sudah ada. Tetap aja ada yang kosong, dan terkadang membuat iba kita, dan akhirnya menjelaskan semuanya kembali.

Kadang-kadang, banyak yang membuatku bertanya. Apakah tutorial itu sistem yang dibuat untuk membantu, atau malah menyulitkan ke depannya? Dengan adanya tutorial dimana pengisinya adalah orang seangkatan atau beda sedikit tingkat, maka kecenderungan orang akan lebih nyaman dan lebih mudah menerima karena atmosfernya cocok, dibandingkan ruang kelas yang komunal, dan sering banget ilmu yang diberikan masih ada di tahap”absurd” (yang ngajarnya aja bingung)

Sedikit banyak, dengan sering bangetnya “absurd” yang diajarkan oleh para pengajar di ruang kelas, ini dengan mudahnya membuat kita, makhluk generalisator akan menggeneralisasi semua pengajaran oleh pengajar itu absurd. Padahal enggak kan? Tetap aja ada pengajar-pengajar keren, nyentrik, eksentrik, tapi dengan segala kekhasannya bisa membawa pengajaran begitu menyenangkannya. Cuma benak kita udah tertutup karena perilaku beberapa pengajar.

Ga salah sih, itu memang kecenderungan semua manusia.Cuma ingat ya guys, kalian yang berkesempatan untuk menyadarkan temen-temen kita dan juga diri kita masing-masing, jangan mudah menggeneralisasi sesuatu, dalam hal ini contohnya akademik. Karena akar ga passionate di jurusan itu sebegitu mudahnya terjadi karena generalisasi, sayang kan waktu yang luar biasa untuk menuntut ilmu dari orang-orang luar biasa sudah tertutup sama spekulasi kita.

Kalau generalisasi ini sudah terjadi, sangat mungkin passion seseorang di jurusan itu hilang. Kuliah mager, karena ga ngerasa dapet apa-apa (ga ngerasa dapet atau ga berusaha dapet? Gatau yaa). Belajar menjelang ujian aja, lalu kaget materinya banyak. Belajarnya dari soal tahun lalu doang, gimana bisa lebih baik? Abis itu ujiannya ga maksimal, dan lingkaran setan kembali berulang.

Nah ini nih, saat menjelang ujian, belajarnya pun karena ada tutorial. Tutorial kan didesain membantu, bukan menggantikan peran pengajar dalam sistem pengajaran, makanya ga bisa secara komprehensif mengulang semua proses perkuliahan dari 0. Kemunculan proses “mendewakan” tutorial ini berbahaya dan makin beresiko dengan menelan bulat-bulat semua ucapan dari tutor untuk meningkatkan kuantitas ilmu yang dipelajari, bukan kualitas.

Ingat, kuliah yang kamu ambil itu kamu pelajari selama satu semester, 6 bulan. Jadi materi yang kamu pelajari juga akan matang bila dipelajari selama masa idealnya. Bahkan, hardly to say, terkadang kita udah belajar selama 6 bulan aja juga ga ngerti, gimana kalo kurang daripada itu? Makanya tidak boleh mendewakan tutor semalam dua malam karena itu tidak banyak mengubah kalian, termasuk saya sendiri.

Dalam tutorial mata kuliah wajib yang saya inisiasikan selama di jurusan, saya mendapatkan begitu banyak hal. Hubungan baru dengan orang lain, melihat cara belajar mereka, bagaimana mengemukakan pendapat, bertanya, menjawab, panik, khawatir, tertawa. Manusia akan terlihat belang sebenarnya saat tutorial, dan ini cara melihat seorang insan akademisi yang paling jeli.

Interaksi sosial begitu berjalan dengan alami dan nyaman, bila ada kecocokan antara dua pihak. Tentu saja penutor dan yang ditutor. Nah, makanya ini yang menjadi faktor yang ditutor ini pasti punya chemistry tertentu dengan penutor tertentu. Ini seperti hidayah yang tak bisa dijelaskan, selayaknya seperti bagaimana dua insan jatuh cinta. Cuma ini juga bisa didukung dengan faktor-faktor eksternal, misalnya jumlah orang yang ditutor, kemudian cara penutor menjelaskan, dan apakah ada lapak tutor lainnya yang lebih menggiurkan.

Memang jauh lebih menyenangkan kalau banyak yang mengikuti tutor yang kita sediakan, namun ingat, apakah kuantitas atau kualitas yang kita kejar? Kualitas tutor yang ideal lebih mudah ditemukan dalam atmosfer dengan sedikit orang, karena dengan sedikit orang, setiap manusia akan lebih vokal untuk mengungkapkan ketidaktahuannya. Percayalah, seterbuka apapun orang, tidak akan dengan mudah mengungkapkan kelemahannya di depan umum. Sebegitu fananya manusia, seperti kata Nietzsche.

Berbagai tutor sudah dilaksanakan, lalu selalu berujung ke pertanyaan, apa dampaknya? Kembali lagi manusia akan menguji segala usaha yang mereka lakukan dengan hasil akhir. Apakah nilainya memuaskan? Apakah dampak dari tutor terlihat? Semua pertanyaan-pertanyaan akan menguji kebertahanan seseorang dalam memilih penutor tertentu. Apakah tetap bertahan, atau mulai beralih ke penutor lainnya?

Tutor pun spesifik mengikuti mata kuliah yang diajarkan. Jadi, biasanya semakin tinggi jenjang penutor, dia akan lebih selektif dalam memilih apa yang akan dia bagikan. Yang dia dalami akan lebih suka dia bagikan, karena dia bisa make sure atas apa yang dia bagikan. Berbeda dengan sekedar mata kuliah lainnya yang nilainya bagus di situ, tapi ga begitu passionate. Wah, ribet juga ya jadi penutor?

Balik lagi sih kepada diri kita masing-masing. Terkadang juga kita merasa inferior untuk menjadi tutor padahal kita punya potensi, cuma udah diselubungi dengan alasan bahwa kita introvert, lebih suka belajar sendiri, cuma paham pake rumusnya gimana tapi esensinya ga dapet. Semuanya juga dimulai dengan orang yang tidak pernah menutor kok. Cuma seberapa kita bisa mengalahkan segala spekulasi yang kita tanamkan bahkan ke diri kita sendiri. Ga ada salahnya jadi tutor kok, karena itu melatih komunikasi kita, dan mempertanggungjawabkan ilmu yang kita sudah peroleh, karena kalau kita benar-benar paham, seharusnya kita dapat mengajarkannya dengan mudah kepada anak berumur 6 tahun kan? Kata Albert Einstein.

Seharusnya, dengan adanya tutorial ga menghambat orang untuk tetap memprioritaskan bahwa belajar rutin dan penuh esensi tetap dilaksanakan. Semua ilmu berguna, cuma pengemasannya di ruang kelas terkadang kurang menjual. Ya cari dong caranya biar menjual, dan kita beli, kita nikmati, kita peroleh manfaatnya. Miris terkadang kalau kita belajar hanya sekedar nyari nilai (g salah loh), padahal kalo esensinya aja ga dapet (udah dianggep bullshit duluan), apa manfaatmu untuk menuntut ilmu, hai anak manusia?

Mau ambil mata kuliah aja ga liat silabus kan? Ya ga heran kalo bingung setelah ngambil mata kuliah (walaupun mata kuliah pilihan ya) membuat bertanya-tanya, belajar apa sih sebenarnya?

Tapi, dengan segala hormat, tutorial nampaknya akan terus diadakan. Sebagai salah satu cara elemen institusi kemahasiswaan agar terlihat menarik dan berguna bagi para kadernya, mungkin. Atau memang didasari atas kesadaran bahwa jaminan keilmuan adalah yang paling diprioritaskan mengingat berbagai tuntutan kurikulum akademik yang mencekik kini? Entah.

Namun, kalau tutorial nantinya bakal diadakan terus menerus, wahai semua petinggi yang mengatur hal itu, cerdaskan bagi orang-orang, bahwa tutor bukanlah mukjizat yang dilakukan dalam sejam dua jam. Kami, para penutor, tidak sesuci malaikat bahkan Tuhan untuk melakukan mukjizat tersebut.

Dan akhirnya, kemarin, 15 Mei 2015 adalah tutorial terakhirku untuk Mata Kuliah Wajib Kimia Koordinasi dan Logam Transisi di angkatanku. Ini bukan berarti aku bakal berhenti menutor, cuma ini momen terakhir buat lebih kenal angkatanku dengan jalur akademik. Dulu yang pernah aku katakan di hearing calon ketua angkatan, seperti belajar angkatan, walaupun mengalami pergeseran selama keberjalannya, dan mungkin ga berbeda dengan tutor biasa, bisa aku selesaikan dan aku cukup bahagia dengan hal itu.

Pasti juga banyak yang kesel ya selama aku menutor, dengan kefrontalanku dan idealismeku yang terkadang menyakiti hati temen-temen. Maafin ya :(. Sungguh, segala hal itu dan tulisan inipun bukanlah pembenaran atas kelakuannya yang kurang terpuji itu. Namun seperti yang aku janjikan, bahwa proses memperbaiki diri akan senantiasa dilakukan, dan terima kasih menjadi bagian evaluasi dalam hidupku.

Tapi jujur sih, bahwa hal yang paling membahagiakan dalam tutor itu bukan karena yang ditutor tuh akhirnya lulus atau nilai ujiannya bagus. Itu mah cuma reward doang, karena seperti yang akan kubilang berkali-kali, bahwa tutorial itu ga ngefek apa-apa sebenarnya, cuma rasa aman aja, sebagaimana kalian memfotokopi berbagai handout dan soal-soal tahun lalu. Yang terpenting itu sugesti kalian, sugesti dan keyakinan positif kalian, yang menunjang kemampuan kognitif yang kalian sudah disiapkan sebelumnya.

Ujian itu bukan masalah mana yang harus diutamakan, yaitu semangat atau materi. Ya dua-duanya harus siap lah, emang materi doang bisa bikin lo semangat mengerjakan soalnya? Dan semangat doang akan membuat lo bisa mengerjakan soalnya? Kesetimbangan bro, kedua komponen itu penting. Dan aku yakin kalian bisa kok memberikan yang terbaik untuk ujian wajib matkul yang ada kimia-kimianya terakhir angkatan ini 🙂

Mengenal kalian melalui tutor adalah hal yang menyenangkan, begitu pula jatuh cinta dengan seseorang karena tutor.

Semangat Ujian Kimia Koordinasi dan Logam Transisi, kawan 🙂

 

IK

 

 

Sebuah Cara Pandang yang Lain : MPAB

Mungkin lebih baik saya tidak memulai pemaparan ini dengan berbagai definisi berbasis Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mari kita memulai kisah panjang lebar ini dengan bagaimana Program Studi Kimia ITB membagi kelompok keahliannya.

Suatu pembagian didasari oleh kategori-kategori tertentu yang mengklasifikasikannya. Dengan kata lain, kelompok keahlian yang disusun oleh Program Studi Kimia ITB seharusnya memberikan kita sedikit pencerahan mengenai “atas dasar apa terbentuk berbagai kelompok keahlian tersebut”. Yang kita ketahui adalah KK Biokimia, Organik, Anorganik, Fisik dan Analitik. Pertanyaannya adalah, apa yang mendasari pembagian seperti itu?

Nampaknya paragraf di atas cukup sulit untuk dipahami, dan semoga analogi saya mempermudah pemahaman. Bagaimana kita membagi jenis hewan? Mungkin dengan klasifikasi sederhana, yaitu dari jumlah kakinya. Dari hal tersebut kita memperoleh hewan tak berkaki, berkaki satu, dua, tiga, empat, dan lebih dari empat. Kemudian klasifikasi lebih lanjut dapat dilakukan. Namun,atas dasar apa munculnya Biokimia, Organik, Anorganik, Fisik, dan Analitik?

Sesuai dengan apa yang saya dan kalian peroleh di kuliah pengantar MIPA oleh Dr. Muhamad Abdulkadir Martoprawiro, saya memperoleh pencerahan yang lebih baik atas pembagian KK. Seharusnya, pembagian KK dispesifikasikan berdasar kategori masing-masing. Misal, berdasarkan objek yang dipelajari kita menemukan biokimia, organik, dan anorganik. Namun yang kita perlu perhatikan adalah overlap antara setiap hasil klasifikasi tetap ada, jadi tidak terpisah sepenuhnya.

Berikutnya, berdasarkan dasar ilmu, kita membagi kimia menjadi struktur, energetika, dan dinamika. Mari kita memulai dengan menganalogikan pembagian ini dengan alur berpikir dalam berhimpun. Semua didasari oleh struktur, dan hal yang paling sederhana adalah struktur organisasi yang kita miliki. Dengan Badan Kelengkapan Himpunan yang mengandung 3 aspek, yaitu Badan Pengurus, Tim Senator, dan MPA (Majelis Perwakilan Anggota), dan hal-hal lain yang diatur lebih mendalam di AD/ART, saya pikir tidak menemukan sesuatu perubahan struktural yang signifikan untuk dilakukan di masa kini. Mari kita berasumsi hal yang serupa untuk kedepannya.

Keberadaan struktur yang mendasari sebuah organisasi adalah hal yang tak perlu dipertanyakan. Ini adalah syarat utama untuk membentuk organisasi. Konsekuensi logis dari keberadaan struktur ini, yang serupa dengan struktur kimia yang kita ketahui, adalah sebuah sistem dengan energi dalam, energi potensial, atau parameter lain yang berkaitan dengan “energi” dan “potensi”. Ya, dengan struktur yang kita miliki, ini mendasari potensi apa yang kita punya sebagai anggota himpunan, dan berapa energi yang kita miliki untuk menggerakan sesuatu, yang biasanya dikatakan “pergerakan” ,“karya”, maupun “aktualisasi diri”

Beranjak dari fokus apa yang kita miliki dengan kondisi statis, kita hidup di dunia yang tidak hanya memiliki dimensi ruang saja, namun juga dimensi waktu. Dimensi waktu inilah yang menuntut kita tidak boleh statis semata, karena waktu mengalir, dan jaman berubah. Ada driving force yang membuat kita mempertimbangkan faktor waktu, atau dengan kata lain aspek dinamika. Bagaimana kita merelevansikan kondisi dan usaha kita dengan waktu yang berubah, memperjelas bahwa tantangan terbesar harus dijawab oleh kaderisasi itu sendiri, karena generasi berubah dan zaman berubah.

Perlu kita sadari bahwa kaderisasi adalah proses pembelajaran, long-life education. Tak berhenti di eventual semata. Transfer ilmu, momen berharga, dan berbagai definisi luar biasa lainnya. Kaderisasi, dalam hal ini MPAB, adalah momen refleksi bagi kita semua untuk paham bahwa generasi berubah, dan ini berarti menjadi kesempatan besar kita untuk memperbaiki diri, ataupun ancaman besar yang menjadikan kita semakin buruk. Pertanyaannya, mengapa harus ada MPAB, bila kaderisasi itu adalah proses pembelajaran terus-menerus?

Bila jawabannya adalah sebagai Program Kerja yang sudah disahkan di Musyawarah Kerja, saya memiliki pendapat yang lain. Mari kita refleksikan, apa yang diperlukan reaktan untuk menjadi produk?

Ya, reaktan dan produk, dengan struktur yang mereka miliki masing-masing, memunculkan energi potensial dari setiap aspeknya. Namun energi tidaklah cukup. Harus ada momen penting yang membuat reaksi terjadi. Apakah itu? Yaitu tumbukan. Ya, tumbukan adalah faktor utama dalam sebuah proses. Dan kita bisa katakan bahwa tumbukan itulah sebagai momen. Momen inilah yang mendasari adanya event yang membuat proses MPAB diperlukan dalam setiap organisasi.

Kalau begitu, pertanyaan berikutnya adalah, apakah MPAB harus serupa setiap tahunnya?

Kawan, jaman sudah jauh berubah. Orientasi militer yang muncul di jaman orde baru tidak lagi relevan dengan generasi kini yang sudah banyak dijelaskan dengan berbagai teori kepribadian. Bukan untuk ditinggalkan sepenuhnya, namun seperti yang sudah dipaparkan pada aspek dinamika, semua bergerak, semua berubah. Dan saya berpikir bahwa ada yang perlu diubah, dan mungkin Kimia itulah yang menjadi dasar saya untuk berubah.

Kita sudah tahu bahwa berbagai pemikiran teoretis yang mendominasi di bagian awal paparan ini. Mari kita beranjak menuju bagaimana Kimia menjadi sebuah ilmu pengetahuan. Kimia adalah ilmu eksperimental, semua didasari oleh eksperimen yang empirik dan teori-teori yang muncul adalah usaha manusia untuk menjelaskan berbagai fenomena yang ada. Dan itu diturunkan melalu metode ilmiah yang sahih.

Apa itu metode ilmiah? Saya yakin kalian sudah cukup bosan untuk lagi-lagi membaca definisi, walaupun itu adalah hal yang amat krusial. Namun mari kita sederhanakan dengan analogi yang semoga sederhana.

Sekalinya eksperimen dimulai, harus ada tujuan akhir yang ingin dicapai. Harus ada solusi akhir yang ditemukan. Semua yang diawali harus diakhiri. Ini yang mendasari bahwa semuanya harus solutif, dan kita akan menemukan jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, hasil akhir dari tujuan percobaan kita, karena berhimpun dan bereksperimen tidaklah jauh berbeda. Bahkan serupa dan sama.

Dengan adanya tujuan dan simpulan akhir yang ingin dicapai, kita perlu memahami pentingnya berbagai tahap yang harus kita lewati dari tujuan awal mencapai simpulan akhir. Ada aspek pengumpulan pustaka, analisis kondisi, hipotesis, material yang perlu kita siapkan, dan metode yang kita gunakan nantinya. Batu-batu loncatan inilah yang dihasilkan melalui proses berpikir yang intelek.

Namun, menyadari dan memahami adanya tahap-tahap yang perlu kita lalui untuk mencapai akhir tidaklah cukup. Butuh keaktifan yang mendasari kita agar bergerak melalui setiap tahap-tahap yang ada. Dengan menjadi aktif, kita akan bergerak aktif melalui tahap awal ke setiap batu loncatan untuk mencapai garis akhir.

Akhirnya, kita pahami nantinya bahwa setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menjawab tujuan yang dirumuskan di awal. Untuk menemukan simpulan mereka masing-masing. Untuk menemukan apa yang mereka ingin cari. Setiap orang memiliki caranya masing-masing, dan yang kita perlukan adalah menjadi peka dengan setiap cara yang dilakukan oleh orang lain. Dengan begini, menghargai dan menghormati dalam berhimpun bukanlah masalah besar, karena kepekaan sudah menjawab hal tersebut.

Akhirnya, atas dasar tersebut, dihasilkan visi

MPAB yang membentuk kader solutif, intelek, aktif dan peka

Tunggu, bukankah visi harus diturunkan dari Latar Belakang MPAB, Masalah di Himpunan, Literatur dan Cita-Cita MPAB yang dibawa oleh Calon Ketua?

 

Kita tentunya yakin, bahwa masalah di himpunan ini tidak berbeda jauh dari masalah-masalah pada tahun-tahun sebelumnya, dan ini amat terlihat jelas, yaitu minimnya partisipasi massa di kegiatan himpunan maupun untuk mengembangkan diri di himpunan, yang nantinya berujung pada masalah kepanitiaan dan lain-lain.

 

Sedangkan Latar Belakang MPAB yang termaktub dalam Draft Musyawarah Kerja BP HMK ‘AMISCA’ ITB 2016/2017 yang disahkan adalah

 

  1. Menjawab arahan GBHP terhadap Badan Pengurus tentang bidang Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Daya Anggota poin 2(Melakukan mekanisme penerimaan anggota baru HMK’AMISCA’ITB) dan bidang Karya dan Inovasi poin 1 (Memfasilitasi anggota HMK’AMISCA’ITB untuk menghasilkan karya dan inovasi yang berbasis keilmuan kimia dan non-keilmuan kimia).
  2. Arahan Ketua Himpunan (perlunya penyiapan kader sebagai penerus estafet kepemimpinan).
  3. Perlunya kaderisasi awal bagi calon anggota HMK ‘AMISCA’ ITB

 

Dan lebih jelasnya, arahan Ketua Himpunan yang berupa :

Calon anggota memiliki :

  1. Rasa kebermilikan terhadap himpunan
  2. Pola Pikir K3 (Kritis, Konstruktif, dan Kreatif) dalam menghadapi isu yang ada khususnya PKM.
  3. Pembiasaan bekerja sama sebagai tim
  4. Pembiasaan anggota baru untuk menulis
  5. Kepahaman pentingnya berorganisasi
  6. Kepahaman lingkungan perkuliahan

 

dan arahan Menteri PSDA yang berupa :

Peserta dan panitia MPAB memiliki :

  1. Motivasi dalam mengembangkan keilmuan dan keprofesian kimia
  2. Pembiasaan apresiasi, empati, dan respek pada setiap kegiatan
  3. Kepahaman akan visi dari Ketua Himpunan periode 2016/2017

 

Setelah kita membenturkan semuanya, apakah ada titik temu ?

 

Mungkin ini pertanyaan retoris, namun bagi saya, saya akan menjawab ada. Dan kembali titik temu itu adalah :

 

MPAB yang membentuk kader solutif, intelek, aktif dan peka

 

Lebih dalam mengenai 4 aspek yang ada di visi. Kembali lagi kita akan diingatkan kepada 3 objek pembelajaran dalam manusia, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. MPAB hanya bisa memacu 2 aspek yang pertama dengan lebih maksimal, karena psikomotorik bukan ranah utama dalam MPAB. Namun hal sederhana yang dapat menenangkan adalah, dengan orang datang ke acara MPAB, dia bergerak, dan aspek psikomotoriknya sedikit banyak telah distimulasi.

Kognitif adalah yang berkaitan dengan pikiran, dan ini dijawab oleh solutif dan intelek. Pikiran pun dibagi berdasar ranah kerjanya, yaitu internal dan eksternal. Karena solutif berkaitan dengan ranah keadaan yang ada di luar subjek (menjawab pertanyaan yang dihasilkan dari kondisi lingkungannya), solutif adalah kognitif eksternal, dan intelek adalah kognitif internal karena dihasilkan melalui analisis mendalam mengenai sebuah bahan pikir, dan itu berarti menyelami cara pikir yang mendalam di ranah internal setiap subjek pembelajaran.

Sedangkan Afektif berkaitan dengan perasaan, dan kembali lagi ini dijawab oleh aktif dan peka. Hasrat untuk aktif dihasilkan dengan benturan dalam diri seseorang. Ini amat sulit dijelaskan, dan biasanya malah terkait dengan konsep “hidayah” yang tidak banyak tercampuradukkan oleh keadaan sekitarnya. Aktif sebagai ranah afektif internal nantinya dilengkapi dengan Peka sebagai ranah afektif eksternal yang dihasilkan melalui benturan melalui kondisi lingkungan sekitarnya.

Setiap ada visi, pasti ada misi, yaitu apa yang perlu dilakukan agar mencapai visi tersebut. Dan inilah yang dijawab melalui tumpuan antar aspek yang terkandung pada visi

Bagaimana menjadi solutif?

Tak kenal maka tak sayang, maka harus diperkenalkan. Awalnya memang tidak kenal, namun harus kenal melalui suatu tumbukan, agar tahu apa yang ada, dan apa yang ingin dicapai. Solutif ini dijawab dengan proses pengenalan, yaitu berbagai elemen yang terkandung pada HMK ‘AMISCA’ ITB dan tentunya Kimia ITB sebagai landasan eksistensi dari himpunan itu sendiri.

Solutif menuju Intelek?

Tahu apa yang ada dan tahu apa tujuan akhirnya hanyalah menjadi impian semata bila tidak diselesaikan dengan langkah-langkah strategis. Seperti metode ilmiah yang kita lakukan, kita harus melandasi semuanya dengan cerdas dan pemikiran yang dapat kita pertanggung jawabkan. Serupa dengan asas keenam himpunan ini, Kebenaran Ilmiah harus digunakan, dengan kata lain ilmu yang kita pelajari adalah landasan berpikir kita, yaitu Kimia.

Intelek menuju Aktif?

Peralihan dari aspek kognitif menuju afektif bukanlah hal yang mudah selayaknya membalik tangan bayi. Ini bisa distimulasi melalui proses kreatif yang sakral, dan kita temukan dengan kejernihan pikiran dan ketenangan batin.

Aktif menuju Peka?

Mungkin inilah hal yang tersulit. Bagaimana peka bila tidak mengetahui yang lainnya? Maka komunikasi adalah cara yang paling dahsyat untuk menjawabnya. Dan komunikasi bukanlah searah semata, namun dua arah, saling mendengarkan dan saling mengemukakan pendapat.

Dari penjabaran di atas, turunlah Misi

  1. Memperkenalkan elemen HMK ‘AMISCA’ ITB dan Kimia ITB
  2. Menjadikan Kimia sebagai salah satu cara berpikir yang utama
  3. Mengembangkan proses kreatif dalam keberjalanan acara
  4. Melakukan komunikasi dan saling mengemukakan pendapat yang konstruktif

Terlalu teoretis, utopis, tidak realistis, terlalu bermimpi, ngawur, mungkin itu yang terlintas di pikiran kita semua saat membaca hal ini, namun saya yakin, inilah yang terbaik yang saya bisa lakukan dan kemukakan sejauh ini. Semoga ini bisa menjadikan kita lebih baik, karena bermimpi setinggi langit akan membuat kita jatuh setidaknya di antara bintang-bintang.

Langkah strategis yang saya ambil adalah di Pra MPAB (secepatnya setelah penjurusan) yang akan memberikan tugas wawancara angkatan dan massa Amisca, terutama hubungan keluarga unsur yang harus mulai dijalin karena pentingnya memiliki atmosfer yang sudah dikenal sebelum berjuang untuk survive di Prodi Kimia ITB.

Setelah itu, nantinya saat masuk dan mulai dari interaksi pertama, terdapat pengemasan penyampaian materi lingkungan fisik dan non fisik yang lebih segar, yaitu wawancara/jalan-jalan bersama dosen dan pegawai Kimia ITB. Ini menunjukkan bahwa kita tidak akan lepas dari hubungan dari berbagai elemen Kimia ITB, dan dosen beserta pegawai non dosen adalah orang-orang yang amat dekat dan krusial bagi kita, namun terasa amat jauh.

Bentuk interaksi lapangan akan tetap ada, namun semakin kecil porsinya dan pengemasan lagi-lagi menjadi tantangan utama. Konsep moderator yang sudah dibangun dengan baik oleh Jaka O’12 adalah dasar yang patut dipertahankan dan dikembangkan lebih dalam lagi, baik untuk ide adik-kakak dan komunikasi yang konstruktif. Mungkin tidak jauh berbeda, namun kita akan menempatkan diri sebagai manusia yang sama-sama dewasa.

Tidak ada spek yang menjadi kewajiban dan kesamaan, karena spek adalah hak prerogatif setiap peserta untuk pertimbangkan. Peserta berhak menentukan sendiri spek apa yang mereka perlu bawa dari kisi-kisi yang diberitahukan dari interaksi sebelumnya.

Konsep Tadis akan saya hilangkan di MPAB kali ini, bukan berarti bahwa kinerja Tadis-Tadis di MPAB sebelumnya buruk ataupun  mengecewakan. Sungguh, terlepas dari itu semua, saya amat kagum dengan Divisi Sianida yang dipimpin oleh Vallery Ru’12 di MPAB kemarin, namun keputusan untuk menghilangkan berdasar atas asas sama-sama dewasa dan memacu komunikasi yang menyeluruh dari peserta ke panitia, tidak semata-mata hanya dari Tadis ke Peserta saja.

Ini akan berkaitan dengan pertanyaan, bagaimana mengevaluasi kinerja peserta dan panitia itu sendiri? Mari kita refleksikan bersama. Bagi saya,evaluasi dua arah yang dibangun di MPAB kemarin adalah tonggak awal yang amat baik, namun masih kurang karena sekedar membahas keberjalanan acara. Kali ini, saya ingin memunculkan evaluasi materi dan keberjalanan untuk antar peserta dan panitia, agar TFT tidak hanya sekedar menjadi formalitas, namun titik awal untuk saling mengevaluasi diri, karena panitia bukan berarti selalu benar, dan MPAB bukan berarti keidealan himpunan. Kita perlu menunjukkan ketidakidealan, bahkan harus, namun bukan secara keseluruhan, melainkan perlahan sambil saling meyakinkan bahwa kita adalah manusia-manusia yang terus belajar, terlepas dari umur kita. Walaupun peserta dan panitia ini tidak sama, saya ingin perbedaan mereka tidak membentuk kesenjangan yang signifikan, namun perbedaan yang patut dihormati dan berjalan berdampingan.

Presensi yang dilakukan tidak sekedar presensi fisik, namun presensi interupsi. Ini untuk memacu proses komunikasi dan mengemukakan pendapat, yang jarang sekali ditemui di setiap kali interaksi MPAB. Dengan adanya interupsi, peserta “dipaksa” untuk mengemukakan pendapatnya dan menjadikannya terlatih.

Yang terakhir, adalah Karya besar sebagai final project bukan sebagai pengabdian masyarakat ataupun malam keakraban yang sering dilakukan. Namun terinspirasi dari Karma 2014 (Karya Sigma – Matematika ITB 2013) untuk mencerdaskan massa kampus dengan cara pandang kimia yang salah, baik dari klarifikasi isu-isu kekimiaan yang jelas dan mudah dipahami, demo eksperimen sederhana, dll yang bisa lebih dikembangkan. Mengapa harus pencerdasan ke massa kampus? Nantinya massa kampus akan terjun ke masyarakat. Dan terilhami dengan Proses PCR (Polymerase Chain Reaction), satu massa kampus diharapkan menginisiasi pencerdasan lebih banyak ke masyarakat, daripada semata melakukan pengabdian masyarakat langsung. Setelah Final Project dilakukan? Akan dilakukan pelantikan di kampus dengan melibatkan dosen-dosen sebagai alumni yang mengaktualisasi diri dan alumni lainnya untuk sumber wejangan dan sharing bagaimana generasi penerus perlu menjadi lebih baik.

Mungkin jauh lebih gila setelah membacanya, dan dengan pelibatan elemen Kimia ITB yang lebih kompleks, ini mungkin akan menjadi rumit, namun saya yakin bahwa ini bisa dicapai, karena HMK ‘AMISCA’ ITB memang perlu berjalan sinergis dengan Kimia ITB, mengingat dasar  kita berhimpun adalah Kimia ITB. Koordinasi harus dilakukan dengan baik, dan itu tidak bisa saya lakukan sendiri. Saya butuh tim, dan saya butuh massa HMK ‘AMISCA’ ITB untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita bersama, mimpi saya, mimpi kamu, dan ya! mimpi kita semua.

MPAB 5 hari, NKRI Berprestasi? Bukan masalah besar, karena semua itu bukan untuk dijadikan pembenaran atas keluhan kita, namun tantangan bagaimana menjadikan MPAB tidak hanya berkesan, namun bermanfaat. Mari ubah stigma, “Mending ga ikut MPAB ah” menjadi “Ah, aku rugi ga ikut interaksi MPAB!”. Memang sulit, ya kalau saya saja yang bergerak. Dan saya yakin kita semua bisa bergerak bersama-sama!

AMISCA, AMISCA, AMISCA!

 

 

 

Tuhan Memeluk Orang-Orang yang Percaya Pada-Nya, Beserta Mimpi-Mimpi Mereka

 

 

 

Ivan Kurniawan Sm’13

Calon Ketua MPAB HMK ‘AMISCA’ ITB 2016

Pergi Pada Saatnya

Sebuah perjalanan di kereta menuju Jakarta, sebenarnya akan menjadi perjalanan yang biasa-biasa saja dan tak berbeda dengan yang lainnya

Sejam berlalu, dan aku dibangunkan melalui tetesan air AC yang bocor tepat di atas kursiku. Jatuh ke celanaku, membasahi semuanya. Ya, kursi 9C Bisnis ini ketidakberuntunganku hari ini.

Atau sebuah peringatan?

Kereta tak lagi bergerak. Yap, kereta Argo Parahyangan ini delay dan entah berapa menit dia akan bertahan di tempat kini berpijak. Namun tatapanku tak mengangkasa melalui jendela dengan cahaya senja yang mulai meredup. Tatapanku membumi ke seorang ayah di lorong gerbong. Menggandeng anak kecilnya yang masih banyak bertingkah. Kalau kata pepatah Jawa, anak polah bapa kepradhah. Anak kecil ini minta digendong, diturunkan, jalan-jalan, dan begitu berulang, seterusnya.

Kereta mulai berjalan lagi, dan anak kecil itu belum berkehendak untuk duduk di kursi. Tubuh ayahnya berguncang-guncang ke kiri dan kanan mengikuti ketakstabilan kereta ini. Peluh bercucuran, tak dinyana bahwa umur sang Ayah tak lagi muda untuk diajak polah oleh anaknya. Tapi Ayah senantiasa tersenyum dan meladeni semua keinginan anaknya. Begitu pula Ayah berusaha untuk tersenyum di balik keletihannya di hadapan seluruh penumpang di gerbong ini. Betapa teatrikal yang amat tulus.

Pertanyaan sederhana, kapan terakhir Ayah menggendongmu?

Aku perlu menyelami jutaan memori dan nostalgia yang sudah lama terkubur di dalam benak. Aku tak tahu pasti, karena kenanganku bersama seorang Ayah bukanlah hal yang cukup manis untuk dijadikan sebuah film kasih sayang yang patut diputar di berbagai layar perak. Bukan.

 

Perokok, Pemarah, Penuh Hutang

Lihatlah, adakah secercah hal yang baik dari ketiga kenanganku bersama seorang Ayah? Tidak.

Mungkin sebelumnya aku harus menceritakan dari mana semua kisah ini harus dimulai. Sebagai keturunan Tionghoa, Kakek dan Nenekku yang asli dari China memiliki 6 anak, 4 lelaki dan 2 perempuan. Selayaknya marga Tionghoa yang diturunkan secara patriarkhi, artinya marga Yi yang dimiliki akan diwariskan ke keturunan lelaki. Dengan berbagai masalah yang dimiliki 3 saudara lelaki ayahku, mereka tak memiliki keturunan lelaki untuk diwariskan marga. Dan tersisa ayahku, dan aku sebagai anak laki-laki satu-satunya untuk mewarisi marga.

Perlu aku garis bawahi, bahwa marga bukanlah sebuah hal yang teramat penting sebenarnya. Hanyalah sebuah identitas, prestise, bahwa kami keturuan Tionghoa still exist. Namun teramat mungkin bahwa menjadi pewaris marga satu-satunya menjadikanku tumbal over ekspektasi dari berbagai kalangan.

Ayah merokok dari sejak mudanya, dimulai dari umurku kini. Umurnya 53 tahun saat aku lahir. Awalnya aku tak merasa terlalu mengganggu dengan kebiasaannya itu. Namun kelamaan, batuk dan gangguan pernafasan yang dia alami, membuat dia harus bolak-balik ke klinik, seperti imbas dari permainan yang dia mulai sendiri. Aku yang mulai banyak berkenalan dengan sains dan kimia, mulai mengetahui betapa bahayanya nikotin dan tar di dalam gulungan jahanam itu. Perlahan, aku mulai membenci gulungan itu, hingga orang-orang yang menghisap udara dari gulungan itu.

Ayahku perokok yang berat, dan keras kepala. Aku berulangkali menasihatinya akan bahaya yang sebenarnya dia ketahui, namun selisih umur yang begitu panjang, sekitar setengah abad lebih membuat benteng self defense tertanam kuat di setiap benak orang-orang tua. Seperti yang aku bilang, dia terjebak dengan permainan yang dia mulai. Dan itu menyebalkan.

Nasihat yang monoton dari keluarganya membuat dia jenuh dan jengah. Karakter emosionalnya lama kelamaan muncul, dan dia mulai menjadi pemarah. Bayangkan saja bahwa dia mulai merokok dari umur mudanya, dan puluhan tahun tak berhenti. Bagaimana dengan mudahnya dia bisa berhenti dari segala rutinitas yang merusak paru-parunya itu? Bila baru dimulai setahun dua tahun, mungkin bisa, tapi ini puluhan tahun, jauh berbeda.

Rokok bukanlah hal yang gratis, dan itupun harus dibeli. Keluarga kami adalah keluarga menengah, kalau jujur menengah ke bawah. Makan berkecukupan adalah hal yang sulit, namun akan sangat diwajibkan di keluarga kami. Dengan segala keterbatasan ekonomi, kita tahu semua bahwa gulungan jahanam itu setara dengan gulungan uang. Ya, membakar rokok sama saja dengan membakar uang, dan membakar paru-paru penghisapnya.

Lama-kelamaan, cadangan uang yang menipis membuat janji manis dilontarkan oleh ayahku. Akan berhenti merokok, katanya. Namun di kala kawan-kawannya datang dan mulai menawarkan gulungan jahanam itu, dia pun ikut terbawa arus suasana. Gagal usahanya, atau menggagalkan dirinya sendiri? Entah aku tak tahu. Mulai sembunyi-sembunyi mengambil uang dari tabungan penyimpanan. Sampai-sampai celenganku harus ditulisi MDT, Maling Dilihat Tuhan.

Dia seorang Tukang Gigi, begitulah dengan kakekku. Profesi yang selalu dicampuradukkan oleh persepsi publik dengan seorang dokter gigi. Berbeda, sungguh berbeda. Dokter gigi adalah seorang dokter, sarjana, lulusan yang teruji, dan terpercaya. Sedangkan tukang gigi, seperti namanya, hanyalah tukang. Pekerjaan kasar, ilmu yang diperoleh secara otodidak, tak teruji, dan tak sesohor namanya dibandingkan profesi-profesi lainnya. Membuat gigi palsu. Mungkin karena itu sedikit banyak ayahku mulai mampu dipalsukan kehidupan.

Seperti yang kita tahu, seorang Tukang Gigi tak memperoleh seberapa dalam hidupnya. Omsetnya berada di daerah threshold, ambang batas. Terbatas. Di sisi lain, ayahku adalah orang yang murah hati kepada orang lain. Tak perlulah membayar bila gigi palsu tak diambil. Padahal untuk membuat gigi palsu tidaklah mudah dan murah. Banyak orang yang menipu dan nakal, pesan ini itu, banyak sekali, akhirnya tak jadi. Namun ayahku cukup sabar menanggapinya, rejeki sudah diatur katanya.

Kemalangan ini terjadi berulang kali, sehingga kondisi yang terbatas membuat ayahku harus hutang sana-sini. Seperti kata pepatah lama, hitunglah jumlah temanmu sebenarnya di kala kau malang. Teman-teman yang sering mengunjunginya, merusak paru bersama, mulai meninggalkannya. Kami menjadi keluarga yang terpinggirkan. Hutang sana-sini bukanlah track record yang baik di daerah kami, terutama untuk etnis Tionghoa, dan begitulah aku tumbuh menjadi anak yang minder dan tak percaya diri.

Setidaknya itu tak berlangsung lama, aku masuk ke SMP dan melihat ada kesempatan untuk meningkatkan harkat dan martabat keluargaku. Di masa itu, mengikuti olimpiade adalah prospek yang baik untuk kembali dilihat, dipandang, dan meraih masa depan yang lebih baik. Berulang kali ayahku menanamkan filosofi pendidikannya kepada ku. Bila aku tak rajin belajar, bagaimana aku bisa menjadi juara? Bila aku tak menjadi juara, bagaimana aku bisa mengikuti berbagai lomba? Bila aku tak bisa mengikuti berbagai lomba, bagaimana aku bisa memenangkan lomba? Bila aku tak bisa memenangkan lomba, bagaimana aku bisa mendapat beasiswa? Bila aku tak mendapat beasiswa, bagaimana aku bisa kuliah?

Aku hidup dengan filosofi pendidikan seperti itu, bertahun-tahun. Dan aku yakin bahwa tidak hanya kami yang ditanamkan cara pikir seperti itu, namun semua keluarga menengah ke bawah lainnya, dengan segala keterbatasan yang dimiliki pasti menuntut keturunan dan generasi penerusnya sebagai orang yang lebih baik lagi. Maka dari itu, aku mulai mengikuti berbagai lomba, dan salah satu yang berkesan adalah saat aku memperoleh peringkat 1 di seleksi nasional untuk kontingen Indonesia di International Junior Science Olympiad 2009.

Seleksi nasional dilanjutkan dengan training berbulan-bulan di Bandung. Aku tak banyak berkomunikasi dengan ayah saat itu, hanya dengan ibuku saja. Namun, tak banyak komunikasi yang berjalan menumbuhkan ekspektasi tinggi oleh keluargaku, terutama ayahku. Siapa yang tak berharap anaknya mendapatkan yang terbaik untuk memperbaiki keluarga? Bahkan akupun begitu berharapnya. Namun kehendak berkata lain.

Peringkat 1 selalu diidentikkan dengan emas, dengan gelar terbaik. Padahal itu lekang oleh masa, bahkan dalam waktu 6 bulan. Mentalku yang labil membuat performa merosot selama pelatihan, dan karakter emosionalku menjadi-jadi. Tak mampu fokus dengan pelatihan, akhirnya membuat aku memperoleh medali perak, dan menjadi peringkat 4 di Kontingen Indonesia itu sendiri. Aku kecewa, ayahku tersenyum. Simpul, dan aku tahu saat itu bahwa ada sedikit banyak kekecewaan dalam benaknya.

Medali Perak Internasional bukanlah sesuatu yang patut dikecewakan sebenarnya. Namun sebagai manusia yang tak pernah puas, keinginan lebih tentunya menghampiri. Aku tahu, ekspektasi lebih ditanamkan dan diharapkan oleh ayahku, namun itu tak tercapai. Sederhana, tapi terkadang ekspektasi menjadi menyakitkan bagi kami, orang-orang menengah ke bawah yang jarang digantungkan harapan setinggi langit.

Aku tahu bahwa aku memang mengecewakannya, tapi memang tak ada yang bisa aku lakukan lebih. Dalam diriku sendiri aku juga kecewa dengan diriku sendiri, namun entah kenapa aku menjadi jauh lebih kecewa dengan ekspektasi ayahku yang berlebihan dan sering mengungkitnya di kala aku ingin beranjak mengikuti berbagai kompetisi lainnya. “Tak usahlah ikut bila tak berkembang”. Kalimat yang sederhana, namun terkadang menyakitkan untuk anak bermental labil di kala itu.

Terkadang, untuk tidak tersakiti dalam pembicaraan, mungkin diam adalah cara yang baik. Lama kelamaan aku diam dan tak banyak berkomunikasi dengan ayahku. Dengan segala keterbatasan yang menjadi-jadi, aku berfokus pada melatih diri dan mengikuti kompetisi yang lainnya. Tidak banyak yang aku lontarkan kepada ayah. Dia tak perlu tahu semuanya. Akupun berusaha sekuat mungkin untuk memalingkan muka, dan tidak banyak menghabiskan waktu berdua, menghindar dari segala cerita.

Aku tahu, saat aku mulai beranjak ke SMA, bahwa aku bisa memperbaiki prestasiku di International Chemistry Olympiad, dan jalan menuju arah sana adalah memenangi Olimpiade Sains Nasional. Seleksi berjenjang menghadang, dari tingkat sekolah, kabupaten, provinsi, hingga nasional. Tingkat sekolah bukan hal yang sulit bagiku, dan aku mulai berlatih intensif untuk persiapan tingkat kabupaten.

Latihan intensif semakin membuatku jarang berada di rumah. Kakakku yang sedang ada di rumah lebih banyak menemani ayahku. Dan tibalah hari itu, dimana hari cukup panas untuk menjadi alasan malas bergerak. Ayahku sangat menyukai es, berbagai macam es, terlepas itu di musim panas atau musim penghujan. Dia meminta kakakku untuk membelikannya es, dan kakakku membelikannya. Selepasnya kakakku sampai di rumah, es disimpannya di kulkas.

Ayahku tahu bahwa kakakku pulang dari pintu yang berderik-derik bila dibuka-tutup. Kepanasan, membuat ayahku dengan segala permasalahan pernapasannya tersengal-sengal berdiri, berjalan, dan menghampiri kulkas. Di tengah langkahnya yang tergopoh-gopoh, dia terjerembab, jatuh, dan membentur tulang ekornya.

Dia terdiam lemas begitu lama, dan aku tahu bahwa tulang ekor yang terbentur bukanlah hal main-main untuk orang tua berumur 70 tahun. Ya, dia tak lagi mampu berdiri dan harus terbaring di kamar tidur, makan, minum, buang air, dan menghabiskan waktunya di atas dipan.

Hari-hari dilewatkan dan awalnya semuanya membaik, namun lama kelamaan semangat hidupnya menurun. Kondisi fisiknya tak lagi menunjang semangatnya dan semua tahu bahwa Ayahku tak lagi bisa berjalan di sisa waktunya. Dia mulai melemah, malas makan, dan lebih sering termenung.

Dan suatu malam dia tak lagi sadarkan diri. Kami memanggil ambulans di tengah kepanikan kami dan dia memang tak lagi sadarkan diri. ICU bukanlah solusi bagi kami dengan segala keterbatasan ekonomi, karena di kala uang tak lagi mencukupi, alat bantu harus dicabut beserta nyawa yang ditopangnya. Tidak, tidak, itu adalah pembunuhan. Kami tahu pasti bahwa waktunya memang sudah amat dekat, dan kami akhirnya memutuskan untuk merawat beliau tidak di ICU.

Miris rasanya melihat infus yang dijejali tak bisa menembusi urat darahnya. Entah darah yang terlalu kental, atau urat yang terlalu alot. Seketika aku menatap kembali seluruh raganya. Hanya berlandaskan tulang dan kulit. Amat kurus. Menyedihkan dan membuatku terhenyak.  Di malam itu, aku terisak sendirian di kamar tidurku.

Seleksi kabupaten semakin dekat, dan latihan semakin intensif. Esoknya aku harus berlatih seharian, dan di tengah ketidakfokusanku, aku mencoba untuk mengerjakan berbagai soal, hanya untuk mengalihkan pikiranku. Namun itu tak berhasil. Sama sekali tak berhasil. Aku tak tenang.

Di hari itu, Ayah ditemani oleh Ibu dan Kakakku. Hari itu dia tersadar, mau makan dan banyak mengobrol. Seperti orang yang sehat, katanya. Amat segar dan terlihat bersemangat. Dengan lahap memakan semua hidangan rumah sakit dan yang dimasak oleh Ibu. Teguk demi teguk Jus Jambu yang dibuat kakakku diminumnya. Amat lezat, katanya. “Mana Ivan?”, tanyanya. Dan semuanya terhenyak menyadari bahwa aku memang tidak disana, di tengah latihanku yang makin intensif.

Esoknya, latihan pun masih seharian, namun aku berencana untuk ijin pulang lebih awal untuk menjenguk ayahku. Tapi, sebelum rencana itu aku lontarkan, pamanku datang, menjemputku lebih dahulu. Dan tanpa bicara banyak, aku tahu, bahwa kondisinya telah anjlok.

 

Sesampainya di rumah sakit, hanya ada Ibu dan Kakakku. Dokter dan suster berulang kali mengecek elektrokardiogram yang tidak stabil. Mereka berdua mulai mendaraskan doa-doa, dan sedikit terisak. Berulang kali mereka membisikkan kalimat yang mengutarakan keikhlasan bila ayahku pergi sekarang. Baru kusadari bahwa pendeta ada di ruangan itu, dan sudah membaptis ayahku, sehingga ayahku kini Katolik. Aku kembali menatapi ayahku, wajah yang lesu, dan mata yang kosong. Namun kusadari bahwa dia, ayahku, tahu bahwa ada anaknya di hadapannya. Anaknya yang sudah amat lama tak berbicara lagi dengannya. Mata yang tahu betapa merindunya seorang ayah untuk bercengkerama dengan anak laki-laki satu-satunya. Mata yang berkaca-kaca, di saat anaknya memalingkan muka untuk menghindarinya.Ya, mata yang sama. Namun kini kosong

 

Dan tak lagi bernyawa

 

 

Seketika semua ruang dan waktu tercekat saat itu. Tangis menjadi-jadi namun yang aku rasakan hanyalah diam dan hening. Mata yang sama, mata ayahku, mata lelaki, darah dagingku, yang membesarkanku, yang memberikan nafas kehidupan, yang memberikan kesempatanku untuk menjadi seorang di dunia ini. Aku terhenyak, dan aku tahu bahwa semuanya tak lagi sama.

 

Tanggal Lima, Bulan Lima, Lima tahun yang lalu. Ayahku, Yi Djie Wey, menghadap Sang Pencipta.

 

Aku tak banyak berbicara, tak lagi bersemangat. Aku hampir saja memutuskan untuk tidak mengikuti seleksi kabupaten, bila tak ada yang menyadarkanku bahwa aku masih memiliki Ibu, dan orang-orang hidup memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan hidupnya. Bila aku tak lagi mampu membuktikannya kepada ayahku, aku akan mempertanggung jawabkannya kepada ibuku. Singkat cerita, aku memperoleh Medali Emas di Olimpiade Sains Nasional Bidang Kimia, dan medali itulah yang kupersembahkan untuk Ayahku.

Kesempatan makin terbuka lebar, dan akhirnya aku berkesempatan untuk mengikuti International Chemistry Olympiad dua kali, dan mewakili Indonesia di ajang Outstanding Students for The World. Di tahun 2015, aku memutuskan untuk mengikuti olimpiade terakhirku, ONMIPA dan mempersembahkan medali emas yang kuperoleh untuk Ibuku.

Terkadang, aku sering bertanya-tanya, apakah yang terjadi bila aku memutuskan untuk tidak mengikuti seleksi kabupaten saat itu? Lebih tepatnya, apakah yang terjadi, bila Ayahku pergi sedikit lebih cepat atau lebih lambat, entah itu sedetik saja, dari waktu dia pergi seharusnya?

Aku bersyukur, Dia yang perokok, pemarah, dan penuh hutang itu pergi saat itu. Mungkin semua cerita akan berbeda bila dia pergi sedetik lebih cepat atau lebih lambat. Aku bersyukur karena dia tak pergi lebih lambat, karena dia hanya akan merasakan kesedihan lebih lama akan perilaku durhaka anak lelaki semata wayangnya, walaupun aku sedikit sedih karena dia tidak pergi lebih cepat, karena dia tak memberikan lebih banyak waktu dan kesempatan untukku agar menjadi lebih baik, setidaknya di masa hidupnya.

Ya, dia memang harus pergi pada saatnya.

Terima kasih, Ayah

 

Jakarta, 5 Mei 2016

 

Parinirwana

Okay, Let’s be serious now. Sorry I was kidding too much.

Aku tak bisa mengatakan banyak hal, entah semangat, doa, atau apapun. Semuanya tak bisa mengubah apapun, karena orang datang dan pergi begitu mudahnya dalam hidup kita. Kalau istilah Jawa, “urip mung njaluk ngombe”. Begitulah para pendahulu menjelaskan sebegitu cepatnya orang-orang hidup, secepat meminum seteguk air dari gelas berkah kehidupan dari Yang Maha Kuasa. Habis, dan pergi ke tempat yang lain.

Banyak orang berbicara mengenai konsep afterlife. Entah reinkarnasi, surga dan neraka, api penyucian, sungai STYX, dll. Akupun tak mampu menjelaskan semua konsep-konsep yang begitu banyaknya dan begitu kompleksnya. Namun, hal sederhana yang kupercaya, seperti apapun afterlife itu, tak mungkin kita capai dengan hidup yang begitu-begitu saja.

Hakekat manusia adalah seorang wayang, yang bergerak sesuai keinginan Dalang, Skenario Maha Tak Tertebak. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengikuti keinginan Dalang dan berusaha semaksimal mungkin, baru berpasrah setelah berusaha. Bukan sebaliknya. Begitulah seharusnya orang-orang hidup, dan begitu pulalah seharusnya orang-orang memahami kehidupan.

Aku tak pernah mampu untuk menjelaskan kematian. Yang jelas karena aku belum pernah mengalaminya. Aku tak tahu manakah afterlife yang benar-benar terjadi. Aku tak tahu surga dan neraka apakah benar-benar ada, dan bila memang benar-benar ada, aku masuk yang mana? Aku tak pernah tahu, dan aku tak pernah akan tahu.

Lima tahun yang lalu, Sumber Darah Dagingku parinirwana. Pergi dari semesta, terbang mengangkasa bertemu Yang Maha Kuasa. Aku tak pernah mengerti mengapa saat itu terjadi, dan sebegitu aku mengamuk dan mencerca Maha Kuasa akan segala keputusannya. Berontak aku akan semua takdir dan keinginan skenario Maha Tak Tertebak. Tak ada rasa ikhlas dan tulus untuk melepas Beliau tuk pergi.

Namun, lama kelamaan aku tahu. Aku tak bisa murung selamanya, aku tak bisa tersenyum palsu untuk selamanya, aku tak bisa menangis untuk selamanya. Aku masih memiliki sumber darah dagingku yang lainnya. Yang Maha Kuasa mengambil salah satu untuk mengajarkanku seberapa berharganya sebuah sumber darah daging. Dan aku tahu, amat sangat tak ternilai harga dari seorang sumber darah daging.

Tapi, apakah kau tahu? Hidup orang mati tak lagi berarti. Mengapa semua orang berfokus pada kehilangannya, bukan pada apa yang mereka miliki dan tersisa? Aku tahu bahwa kehilangan sangat mahal harganya. Namun lama kelamaan aku sadar, apa yang tersisa dan kumiliki sekarang jauh lebih mahal harganya. Tak ternilai, murni dan suci.

Bukanlah akhir, hanyalah awal dari bagian kisah yang lain. Kesedihan dan kebahagiaan datang untuk menyeimbangkan hidup kita. Senyum palsu dan air mata keikhlasan bagaikan air dan minyak. Mustahil untuk disatukan, namun ada untuk berdampingan.

Aku tahu ini berat, tapi percayalah, Tuhan mengambil sesuatu karena Dia akan memberikan hal yang jauh lebih luar biasa. Bukan mengembalikan apa yang Dia telah ambil, namun Hidup yang lebih baru, bermakna, dan jauh lebih pantas untuk disyukuri. Kamu masih punya Ibu dan Keluargamu, Teman-temanmu. Bersedihlah, dan ikhlaskan. Kembali bersama kami untuk mengejar impian kita bersama. Menjadi lebih baik senantiasa.

I know you’re a strong girl, dear! Cheer up 🙂

Tuhan Memeluk Orang-Orang yang Percaya Pada-Nya beserta Mimpi-Mimpi Mereka

 

IK